Malaria Mass Blood Survey

Dua minggu setelah saya tiba di tanah Papua, atau satu minggu setelah saya tiba di Pulau Biak dan mengunjungi Pulau Wundi –Saya ditempatkan sebagai dokter PTT di Puskesmas Wundi, Distrik Padaido, Kabupaten Biak Numfor, Prov. Papua, dan di antara rekan sejawat, saya termasuk yang pertama tiba di tempat penugasan, bahkan sebelum SPMT dari Dinkes Biak jadi–, Saya sudah masuk dalam kegiatan massal “mass blood survey” untuk mendeteksi malaria.

Kegiatan ini sendiri adalah program dari Global Fund. Tujuannya adalah mendeteksi secara massal kasus malaria di Distrik Padaiodo ini, yang masuk dalam wilayah kerja Puskesmas Wundi (P. Wundi, Pai, Nosi, Auki), dan melakukan pengobatan dengan cepat. Targetnya adalah 1000 penduduk, yang harapannya dapat tercapai dalam satu minggu. Menurut Kapuskes Saya, dr. Firman, dari statistik yang didapatnya, penduduk di Distrik ini sekitar 1800-1900 jiwa, jadi targetnya hanya 50% lebih sedikit. Sepertinya mudah. Apalagi, Bapak penyelia dari Dinkes, Pak Ruslan seorang SKM yang berdedikasi tinggi, dan telah melakukan banyak penelitian dan kegiatan survey di bidang penyakit menular, mengatakan bahwa, biasanya dalam satu hari, Beliau dapat memperoleh sampel 1000 sampai 2000. Tapi kenyataan rupanya berbicara lain.

Saya dan dr. Fatur, sesama rekan PTT di Wundi, menerima kepastian kegiatan pada Selasa siang, keesokan harinya, kami bersiap berangkat dengan menggunakan perahu Puskesmas yang berlabuh di Dok di daerah Bosnik. Perahu kayu dengan dua batang kayu panjang di sisi kiri dan kanannya –di sini disebut Johnson, Saya tidak tahu mengapa begitu, mungkin dahulu, mesin yang dipakai adalah mesin bermerk Johnson, mengingat banyak sebutan di Indonesia ini yang memakai gaya bahasa seperti itu, motor biasa disebut Honda, di Jawa orang bule biasa disebut Londo (singkatan dari Belanda), gaya bahasa pars prototo seingat saya namanya– Perahu ini bermesin 40 PK dengan bahan bakar campuran bensin dan minyak tanah. Bensin dipakai di akselerasi awal, dan setelah perahu melaju, secara otomatis, mesin akan memindahkan pasokan bahan bakarnya ke minyak tanah. Agak mengherankan, mengingat saat ini minyak tanah mahal dan langka. Saya menanyakannya kepada Bashar, sang Motoris (yang mengoperasikan perahu), apakah bisa mesin diatur hanya menggunakan bensin saja. Dia bilang bisa, tapi tidak tahu caranya.

Selain nama-nama di atas, tim kami juga ditambah dua petugas paramedis, satu perawat, James Waimbo, seorang Serui, dan satu Bidan, Annike Morin, asli dari Wundi. Semua petugas turun dalam kegiatan ini, sehingga praktis Puskesmas Wundi tutup selama kegiatan. Ternyata, kegiatan ini juga dilakukan beserta pengobatan massal, Puskesmas Keliling, alasannya: keterbatasan dana.

Kegiatan kami awali di P. Nosi. Terdapat dua desa di sini, Nosi dan Babaruk. Seorang ibu kader sudah menunggu di Pustu Nosi, yang rencananya menjadi tempat kegiatan kami hari itu. Pustu Nosi sendiri memiliki bangunan yang bagus, sayang, petugasnya tidak ada di sana. Kegiatan berlangsung hingga sore, dan ternyata sebagian besar penduduk Babaruk tidak datang, sehingga kami putuskan untuk mendatangi Babaruk saat senja menjelang. Di Babaruk, kami melakukan kegiatan dari pintu ke pintu, karena sepertinya sulit mengumpulkan semua penduduk di satu tempat. Hari itu berakhir di pukul 11 malam. Keesokannya, kami mendatangi P. Pai, yang terdiri dari Pai Imbeyomi dan Pai Inarusdi. Keadaannya tidak lebih baik, karena ternyata masyarakat belum tahu kegiatan ini. Sulit juga. Kami terpaksa menyatroni satu SD, dan beberapa kumpulan massa lainnya untuk melakukan pengambilan darah. Hari itu sudah hari Kamis. Sementara Jum’at, kami harus turun ke kota Biak untuk melaksanakan sholat Jum’at, karena tidak ada masjid di distrik ini. Dan Sabtu akan diadakan kegiatan Seminar untuk para dokter. Tentu saja kami tidak ingin melewatkannya. Kegiatan ilmiah kedokteran di daerah seperti Papua, tentu tidak bisa dibandingkan dengan di Jakarta atau Jawa, yang hampir setiap minggu ada. Di Papua ini, dalam setahun, mungkin jari kita masih terlalu banyak untuk menghitungnya. Praktis, Kamis itu, dan Jum’at pagi esoknya, adalah kesempatan terakhir kami untuk melakukan kegiatan ini. Sehingga kami putuskan melakukan MBS di Wundi malam itu juga, dan menunda Auki pekan depan. Wundi terdiri dari dua desa, Sorina dan Wundi. Kami membagi dua tim, satu ke Wundi dan satu ke Sorina demi untuk mengejar target. Saya sendiri bersama Pak Ruslan dan James ke Wundi. Beruntung, James yang telah dikenal masyarakat dapat melakukan pendekatan dengan baik. Sehingga walaupun dadakan –siapa coba yang mau, malam-malam didatangi petugas, tanpa pemberitahuan sebelumnya, kemudian mencoblosi ujung jari kita dan mengambil darah kita?– Kami berhasil mendapatkan 100an sampel hingga pukul 1 malam. Tim di Sorina tidak mendapatkan sambutan yang sama. Mereka bahkan sempat bersitegang dengan masyarakat. Kami maklum. Keesokan paginya, kami mencoba menyelesaikan sisanya di Wundi, sebelum kembali ke Biak. Tapi rupanya laut tidak mendukung. Air ternyata surut, dan baru kembali pasang sekitar pukul 3 siang. Masalah untuk kami, karena kami tidak bisa melaut saat air surut. Kepulauan di Padaido ini unik sekaligus indah. Jika dilihat dari atas, P. Auki, Pai dan Nosi terletak memanjang mengitari Wundi dengan deretan reef (karang) di antara ujung Wundi menuju ujung pulau tak berpenghuni di selatan Wundi, kemudian di satu ujung Wundi lainnya, ada satu reef menuju ujung Auki. Dari ujung Auki lainnya ada reef lain ke arah Pai kemudian Nosi. Seperti bulan sabit jika dilihat dari atas, dengan Wundi di tengah. Jika air pasang, kami dapat melewati reef, sementara jika air surut, satu-satunya jalan adalah melewati celah di selatan, yang berarti kami harus memutar. Terlalu lama, sulit, dan berbahaya, karena di luar cincin itu sudah masuk perairan dalam, Samudra Pasifik. Akhirnya kami tidak dapat sholat Jum’at hari itu, tetapi mungkin sisi positifnya, kami dapat menyelesaikan kegiatan di Wundi. Kegiatan di Auki kami lanjutkan pekan depannya.

Dengan semua itu, berapakah yang kami dapat? Hanya 800an jiwa. Tidak mencapai target, dan jauh dari jumlah jiwa di distrik ini. Mass blood survey kehilangan maknanya. Terlalu banyak hambatan dan tantangan di kegiatan kami ini, mulai dari kurangnya sosialisasi, jumlah petugas yang sedikit, dan faktor sosiodemografis lain –penduduk Padaido memiliki mobilitas tinggi, mereka biasa berjualan ikan di pasar Bosnik pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu, mencari ikan di hari Senin, Rabu dan Jum’at, mereka berkumpul semua di hari Minggu yang merupakan hari ibadah, sehingga jumlah jiwa 1800 itu sekedar angka, karena kenyataannya, dalam satu waktu, jarang sekali semua penduduk ada di pulau– yang sepertinya akan terlihat bagaikan keluh kesah yang panjang. Yup, kita lihat saja. Semoga kegiatan berikutnya dapat lebih baik..

2 thoughts on “Malaria Mass Blood Survey”

  1. Wah..kelihatannya melelahkan seali ya PTT nya,baru juga datang udah dikasih pekerjaan seperti itu.Tapi mau gimana lagi namanya juga PTT ya khan?Salut deh….Btw, ceritaain lagi donk kegiatan2nya selama sebgai dokter PTT di tempat anda bekerja?Kebetulan saya sudah mau dilantik jadi doter baru, mau ikut PTT yang insyAllah pingin di Papua..Thx mas,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s