Bank Syari’ah, seberapa syar’i?

Tiga tahun yang lalu saya berkenalan dengan Bank Syariah. Kalau melihat umur saya sekarang 27 tahun sepertinya saya cukup terlambat berkenalan dengan Bank Syariah. Tapi tunggu dulu, bukan, yang benar: Tiga tahun yang lalu saya berkenalan dengan uang. Hehe.. Ya, saya baru merasakan yang namanya punya uang. Setelah menyelesaikan pendidikan dokter saya yang lamanya 7 tahun, saya mulai bekerja, memperoleh gaji pertama, dan mulai berpikir mau diapakan uang saya ini. Saya bukan berasal dari keluarga yang memiliki uang berlebih. Saya memang memiliki rekening bank konvensional sebelumnya, tapi rekening itu cuman tempat mampir uang kiriman orang tua saya. Uang habis, kabari mereka, transfer, tarik sampai saldo terendah.. hehe.. bukan karena saya boros, tapi sepertinya pendidikan dokter memang menghabiskan banyak resource. Akibatnya saya tidak pernah menabung, dan saya tidak peduli apa itu bunga bank, apa itu riba, apa itu bagi hasil, mudharabah dan lain-lain. Semuanya cuman gemricik riak kecil di kejauhan, tidak berpengaruh besar terhadap kehidupan saya.

Karena naluri saya dilatih untuk menangani penyakit, saya tidak kepikiran untuk modal usaha, bisnis dan barang sejenisnya. Kalau tidak diinvestasikan, ya tabung saja, kan begitu? Maka saya mulai mencari-cari bank mana yang tepat untuk menaruh uang saya. Sebagai seorang muslim, saya tentu mempertimbangkan juga embel-embel syariah. Tetapi saya juga bukan orang yang pintar agama. Terlalu banyak perdebatan dan pertentangan tentang apakah bunga bank itu riba atau tidak, apa itu riba, dan sebagainya. Semuanya tampak masuk akal. Pertimbangan saya saat itu untuk membuka rekening di salah satu bank syariah, justru hanyalah teknis semata. Saya mencari bank yang jaringannya paling luas. Shar-E jawabannya. Loh kok? Bank Muamalat kan cabangnya tidak banyak? Yup, tapi Muamalat ikut jaringan ATM Bersama, maupun Prima BCA. Dua jaringan ATM yang paling besar menurut saya di Indonesia. Coba bayangkan, misal kita punya rekening Mandiri, dan mau transfer ke BCA, atau sebaliknya bingung gak? Pasti bingung, karena BCA tidak masuk jaringan ATM Bersama, walaupun jaringan Prima BCA-nya cukup besar, dan sebaliknya, Mandiri tidak ikut jaringannya Prima BCA. Benar-benar rivalitas abadi.. hehehe.. Sebenarnya bisa dengan kliring atau RTGS. Tapi harus lewat teller, males banget antrinya. Ditambah lagi, kerjasamanya dengan PT. Pos Indonesia melalui SOPPnya itu benar-benar membuat saya terkesima. Saya bisa setor tunai di hampir sebagian besar kantor pos, dan terbukti pilihan saya ini tidak salah. Saya membuka rekening di salah satu cabang Muamalat di dekat rumah orang tua saya. Itulah kali pertama dan terakhir saya mendatangi bank tersebut, karena selanjutnya, saya melakukan setoran lewat kantor pos di kompleks perumahan atau dekat klinik saya, dan melakukan tarik tunai di ATM. Dua bulan setelahnya, saya ditempatkan sebagai dokter PTT di satu daerah sangat terpencil di Papua. Pulau Wundi, pulau kecil di tepian Samudera Pasifik. Di sinilah kekuatan jaringan itu benar-benar menunjukkan hegemoninya. Gaji kami sebagai dokter PTT dikirim dari Departemen (sekarang Kementerian) Kesehatan Jakarta dengan menggunakan jaringan Kantor Pos. Kami semua dibuatkan rekening Tabungan Pos. Timbul berbagai reaksi dari teman-teman saya. Beberapa teman meminta agar gaji itu ditransfer saja langsung ke rekening bank mereka. Sayangnya kebijakan ini tidak dapat diganggu gugat. Mulailah timbul kepanikan, biasanya karena mereka kurang percaya dengan kantor pos. Akhirnya, di setiap awal bulan mereka ambil semua gaji itu, dan membawa uang cash rame-rame ke bank-bank mereka sendiri. Sayangnya, tidak semua bank besar memiliki cabangnya di tempat saya PTT ini, dan terpaksa mereka membuka rekening bank yang baru di sini. Dan.. as you know, “Kalo mau buka rekening tu harus punya KTP sini Mas..”, Huahahaha.. dimulailah perjalanan panjang membuat rekening bank itu. Lobi sana sini, terutama bapak-bapak RT, RW, dan pemuka masyarakat lain. Ya iya dong, jalur resminya, kita harus bawa surat pengantar pindah domisili dulu dari tempat tinggal kita yang lama. Masak harus pulang dulu ke Jawa? Becanda.. Beberapa sisanya lebih memilih pasrah saja membiarkan uangnya di Kantor Pos, mengambil seperlunya untuk kebutuhan sehari-hari, dan baru mengambilnya saat PTT mereka selesai dan kembali ke Jawa.

Bagaimana dengan saya? Mudah saja, kan cuman pindah loket. Mmm.. gak juga ding, loketnya sama aja. Mungkin karena bosan melihat saya yang selalu bolak-balik ke sana, Pak Pur, seorang pegawai Kantor Pos Biak, tempat saya PTT, pada akhirnya mau langsung memindahkan rekening saya itu tanpa harus menunggu kedatangan saya. Saya tidak tahu apakah ini legal, tapi terlepas dari itu semua, Bank Muamalat harusnya juga memberi apresiasi tersendiri untuk “teller” mereka di Kantor Pos ini. Kalau untuk saya, kebaikan Pak Pur ini sudah sangat membantu. Saya sebenarnya tidak ditempatkan di Puskesmas yang satu pulau dengan Kantor Pos berada. Walau jaraknya hanya 1,5 jam perjalanan dengan perahu, tapi masalah ada pada frekuensi perjalanannya. Karena kami tidak difasilitasi perahu dinas, kami harus menumpang perahu nelayan yang kebetulan berniat menjual ikan hasil tangkapannya di kota. Dan itu tidak setiap hari. Maka, saya harus pintar-pintar untuk mengatur waktu agar bisa ke Kantor Pos.

Jauh di atas hiruk pikuk kegiatan tarik dan setor uang saya itu, saya ingin mengajak pembaca untuk berpikir sedikit lebih serius tentang apa sih sebenarnya menabung itu. Tujuan kita menabung tentunya agar kita siap secara finansial dalam menghadapi kebutuhan kita di masa datang, entah itu sudah kita pikirkan sebelumnya atau tidak. Lalu mengapa harus di Bank? Jelas karena alasan keamanan yang pertama. Karena kemudahannya untuk ditarik, diambil dan dipindahkan dananya, bagi sebagian orang. Karena nilainya yang selalu bertambah, sebagian lagi melihatnya seperti itu. Setidaknya itulah yang terpikirkan oleh saya saat pertama kali berpikir untuk menabung. Tetapi alasan terakhir, saya sendiri kurang sependapat dengannya. Krisis moneter di negeri kita telah menunjukkannya. Betapa nominal uang bisa merosot sedemikian cepatnya. Uang, yang menjadi alat tukar dan patokan untuk menilai segala sesuatu, ternyata juga nisbi. Lalu apa yang bisa dijadikan patokan? Dua topik pembicaraan yang positif dan paling saya sukai tentang krisis multidimensi di tahun 1998 adalah tentang bagaimana bank syariah bertahan di dalam situasi seperti itu, dan tentang melonjaknya nilai emas dan perak. Ternyata ini adalah persepsi yang terbalik. Nilai uang kertas kita yang selalu menurun, itu yang membuat seolah-olah nilai emas dan perak naik. Di dalam al-Quran surat al-Kahfi, dikisahkan tentang para pemuda yang tertidur di dalam gua ratusan tahun lamanya, ketika terbangun, salah seorangnya membawa uang perak untuk kemudian ditukarkan dengan makanan. Tidak dijelaskan memang berapa keping uang perak (Dirham) yang dibawa itu, tetapi asumsikan saja mereka membawa 2-3 keping. Dengan nilai tukar saat ini yang berkisar antara 30-35 ribu rupiah, nilai itu hari ini cukup untuk makan beberapa orang. Bandingkan dengan nilai uang kertas kita yang terus meroket. Sewaktu saya SD, saya biasa berangkat ke sekolah dengan bekal 500 Rupiah, untuk saya belikan makanan saat istirahat. Saat ini, anak kecil mana yang cukup dengan uang sebesar itu. Sekitar satu tahun yang lalu saya mengakikahkan anak saya yang pertama laki-laki, dengan 1 keping uang emas (Dinar), yang alhamdulillah cukup untuk dua ekor kambing. 1 Dinar saat ini setara dengan uang rupiah sekitar 1,5 juta. Persis sama harganya, 1 Dinar untuk 1 hingga 2 ekor kambing dengan harga di masa Nabi Muhammad S.A.W. 14 abad yang lalu.

Dari sinilah, saya selalu bertanya-tanya, sejak tiga tahun yang lalu, mengapa tidak ada satupun Bank Syariah yang membuka rekening dengan satuan Dinar/emas dan Dirham/perak. Saya sangat yakin, tidak mungkin mereka, para praktisi perbankan syariah itu, tidak melihat fakta seperti yang saya jelaskan. Jawabannya adalah karena keterikatan kita dengan IMF. Bank Indonesia sebagai anggota IMF otomatis harus tunduk kepada Article of Agreement of the IMF yang diantaranya mengatur bahwa anggota IMF dilarang mendasarkan nilai tukarnya kepada emas, mengatur jual belinya, produksinya, dan lainnya. Bank Syariah, menurut Undang-undang No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, disupervisi secara penuh oleh Bank Indonesia. Jadi, secara tidak langsung, semua perbankan syariah di Indonesia juga mau tidak mau harus tunduk kepada IMF. Saat ini memang berbondong-bondong bank syariah membuka layanan gadai emas. Tetapi ini jelas sangat berbeda dengan layanan tabungan.

Fakta di atas tidak lantas membuat saya berkata bahwa bank syariah di negara kita kemudian menjadi tidak syar’i. Keimanan dan ketakwaan bukanlah sesuatu yang dikotomis, ya atau tidak. Beriman atau tidak beriman, bertakwa atau tidak bertakwa. Ia adalah sesuatu yang bisa naik dan bisa turun. Pertanyaannya bukanlah apakah kita sudah beriman/bertakwa atau belum, tetapi seberapa besar iman dan takwa kita. Sama halnya, kesesuaian kita dengan syariah adalah sesuatu yang memiliki ukuran, seberapa dekat kita dengan tuntunan ajaran agama kita. Konyol sekali jika masih ada yang berkata bahwa Indonesia adalah negara kafir hanya karena kita tidak melaksanakan hukum potong tangan dan pemimpin kita dipilih melalui pemilu. Mereka lupa bahwa umat Islam di negeri ini bebas melaksanakan shalat dan puasa, diurusi dalam pembayaran zakat dan ibadah hajinya, dan saat ini dibuatkan yang namanya bank syariah. Bisa dikonfirmasi, saya dan istri saya sampai detik ini masih menggunakan layanan bank syariah.

Itulah sekelumit kisah saya dengan bank syariah. Geliat keseharian saya, dan pergumulan pemikiran saya. Masalah ekonomi adalah masalah yang penting, sehingga tidak mungkin Islam tidak mengaturnya. Rasulullah S.A.W. dalam pidato perpisahan Beliau saat haji wada’,

“Maka sesungguhnya darah kamu sekalian, harta kamu sekalian dan kehormatan kamu sekalian haram bagi kamu sekalian satu sama lain (untuk ditumpahkan, diambil dan dinodai), seperti haramnya hari ini bagi kalian, kota ini bagi kalian dan bulan ini bagi kalian. Kamu sekalian akan segera menemui Tuhan kalian dan Dia akan bertanya tentang perbuatan kalian. Jadi jangan kembali kepada kekafiran setelahku dengan saling menyerang leher satu sama lain. Ingat! Agar yang hadir di sini menyampaikan kepada yang tidak hadir. Sebagian orang yang menerima pesan ini lebih memahami dari yangmendengar ini.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin Amr, ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa terbunuh karena membela hartanya, maka ia mati syahid.” (HR Bukhari dan Muslim)

Perampasan harta kita saat ini tidak saja melalui perampokan dan penjarahan secara fisik seperti di masa itu. Spekulasi pasar modal dan pasar uang bisa menghancurkan negeri ini dalam sekejap, tidak terlihat secara fisik dan lebih sistematis. Tanggung jawab besar bagi setiap kita untuk menjaga harta kita sebagaimana sabda Rasulullah di atas.

Tulisan ini disertakan dalam iB Blogger Competition.

ibblogger

One thought on “Bank Syari’ah, seberapa syar’i?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s