Sumber Kencono terus melaju

Tiga hari berturut-turut sejak hari Sabtu (11/9/2010) kemarin, hingga hari ini, Senin (13/9/2010), terjadi tiga kecelakaan lalu lintas yang melibatkan Bus Sumber Kencono (SK).

sk Kejadian pertama terjadi hari Sabtu di daerah Geneng, Ngawi, mengakibatkan satu orang meninggal dunia. Masyarakat yang marah karena menganggap Bus berusaha melarikan diri kemudian mengejarnya hingga terminal Ngawi dan membakar Bus tersebut. Tidak berhenti di situ, dua Bus di belakangnya yang tidak tahu-menahu ikut menjadi korban kekesalan massa, Hari berikutnya, Minggu, lagi-lagi Bus yang berpusat di Krian, Sidoarjo ini kembali terlibat kecelakaan di daerah Caruban, Madiun, yang mengakibatkan satu orang pengendara motor meninggal dunia. Terakhir, hari ini, tiga orang yang terdiri dari sepasang suami istri dan anaknya tertabrak Bus Sumber Kencono yang melaju kencang menuju Krian.

Keberadaan Bus Sumber Kencono memang sudah menjadi fenomena tersendiri. Banyak predikat negatif yang disematkan padanya. Ugal-ugalan, banyak copet dan mesin yang berisik menjadi sedikit di antaranya. Tetapi tidak sedikit juga sanjungan positif yang didapatnya. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Perusahaan Otobus (PO) ini meraih penghargaan sebagai AKAP terbaik region Jawa Timur dari Dephub pada tahun 2008 lalu (sumber di sini). Masyarakat banyak memilihnya karena tarifnya yang murah dan cepat.

Penumpang Jawa Timur bagian barat adalah penumpang dengan karakter yang lugas, to the point, mobile dan membutuhkan transportasi yang cepat. Orang tidak ingin terlalu lama menunggu bus yang ngetem. Bahkan menurut seorang anggota BisMania Community yang sering nyangkruk di parkiran bus suroboyonan, ia sering diiming-imingi dengan rayuan, ” mas iki sopire mas X nge “ses” ( banter/kenthir/sarap ) iso nyalip 4-5 bus nang ngarepe(di depan) sampe medion”. Rayuan yang cukup menggoda iman masyarakat Jatim. Sebaliknya, suatu ketika sopir bus Sumber Kencono pernah dimarahi penumpangnya karena berjalan pelan dan terus-menerus disalip bus lainnya. “Ayo pir kejar, mosok kalah, (ayo sopir kejar, masak kalah),” teriak penumpang.

Persaingan yang sehat antar PO juga membuat perkembangan jalur tengkorak Surabaya, Solo, Yogya ini cukup pesat. Jika satu PO mengembangkan armadanya dengan keluaran baru, saingannya mengikutinya tidak lama kemudian. Jangan dikira bahwa bus-bus Sumber Kencono adalah bus yang kalah muda dengan bus saingannya, Mira/Eka. Tampilannya memang terkesan jadul dengan kaca depan dibelah dua dan wiper menggantung di atas. Tapi PO ini juga melakukan peremajaan tiap 10  tahun sekali. Coba bandingkan dengan bus Solo-Yogya, yang ketika merasa tersaingi dengan kehadiran bus suroboyonan ini, yang maju duluan adalah tindakan main hakim sendiri dan premanisme. Tidak heran jika Dishub Klaten sampai memaksa bus-bus agar mau masuk Terminal Klaten guna meningkatkan PAD.

Penulis sendiri terakhir menaiki bus ini sekitar 1-2 tahun yang lalu. Sewaktu kuliah, bolehlah dikatakan bahwa bus ini yang setia menemani penulis saat berkunjung ke kediaman kakek di Magetan. Karena, biasanya, hanya bus bumel (kelas ekonomi) yang mau mampir di Madiun. Bus patas lebih memilih lurus terus ke Caruban setelah melalui Ngawi. Tapi nama besarnya memang akan selalu dikenang. Saat ini pun, jika mengendarai mobil sendiri, penulis merasa nyaman dan ngeses ketika membuntuti salah satu bus yang mendahului kendaraan di depannya.. Lumayan sebagai foreraider..

Jika berbicara dengan bahasa statistik, kemungkinan/probabilitas, seringnya kecelakaan yang menimpa PO ini memang masih dapat dipertanyakan. Dengan armada yang menggurita, 250 bus, atau sekitar 500 perjalanan PP/hari (SK menerapkan sistem 1 rit/ 1 kali PP ke markas setiap harinya, itulah sebabnya, tidak ada armada yang nyelonong sampe Purwokerto). Bandingkan dengan saingannya yang armadanya tidak lebih dari 100. Jika dikatakan lebih banyak kecelakaan dan atau copetnya? Tentu saja karena jumlahnya juga lebih banyak.

Selama tidak ada peraturan pembatasan kecepatan untuk bus yang diterapkan secara efektif di satu sisi, dan masih ada demand masyarakat akan bus dengan layanan seperti ini, sepertinya fenomena ini akan terus berlanjut.

imagesMenilik sejarah, di tahun 1980-an, Sumber Kencono (dulu bernama Kentjono), bukan PO yang disegani. Dengan hanya 5 unit yang beroperasi, namanya tenggelam oleh kebesaran Flores (saat ini Eka/Mira). Tetapi suatu kejadian di tahun 1981 mengubah segalanya. Bus Flores yang membawa rombongan anak sekolah dari Jombang menerobos perlintasan KA di daerah Solo, dan tertabrak. Masyarakat marah besar, mencegat dan merusak  armadanya. PO Flores memang terkenal ugal-ugalan juga di masa itu. Terpaksa PO ini akhirnya ditutup. Flores memang akhirnya muncul lagi dengan nama baru (Eka dan Mira), keduanya adalah nama dari anak sang pemilik PO ini (ada pula yang mem-plesetkan Eka dengan “eling kereta api”). Tetapi kemunculannya kemudian kalah oleh perkembangan Sumber Kencono. Hari ini, Eka dan Mira telah berkembang lagi menjadi armada yang kuat dan siap bersaing dengan Sumber Kencono.

Roda kehidupan, layaknya roda bus itu, selalu berputar. Dan sejarah telah mengajarkan kepada kita kita dengan caranya yang unik. Akankah cerita yang sama akan berulang?

NB: Hingga hari ini, menurut saudara yang berdinas di DLLAJ Ngawi, SK masih belum boleh masuk Ngawi.

sumber foto: www.bismania.com dan koleksi pribadi mas Indra.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s