Merayakan keragaman? Saya baru saja.

Keragaman adalah suatu keniscayaan. Tidak ada sesuatu yang sama di dunia ini. Sesuatu itu bisa saja nampak dan bisa saja tidak. Keragaman pemikiran adalah salah satunya. Tidak ada manusia yang seragam di dunia ini, walaupun mereka saudara kembar. Walaupun ia adalah orang yang sama di tempat dan waktu yang berbeda. Dan saat ini saya baru saja merayakannya.

Tepat 20 September 2010, saya dipindah-tugaskan ke unit kerja yang berbeda. Dari Puskesmas Penumping ke Puskesmas Sangkrah. Sama-sama puskesmas, tapi ceritanya akan panjang ketika kita bicara tentang keunikan dari masing-masingnya. Dan itulah yang akan kita bicarakan saat ini. Keberagaman dalam sistem pelayanan kesehatan. Penugasan ini semakin mengukuhkan teorema yang saya buat hampir dua tahun yang lalu menilik dari pengalaman saya bekerja. Teorema itu berbunyi bahwa saya tidak akan bertahan bekerja di satu tempat kerja selama lebih dari satu tahun😀. Perlu digaris-bawahi bahwa perpindahan itu bukanlah karena suatu kesalahan yang saya buat. Walaupun saya juga tidak bisa bilang bahwa saya bebas dari kesalahan. Simaklah kisah saya.

Beragamnya kondisi kesehatan

Saya lulus menjadi dokter tiga tahun yang lalu. Pada awalnya saya bingung mau kerja apa. Saya memang tidak minat untuk menjadi dokter. Semua berangkat karena keinginan membahagiakan orang tua. Dan dengan alasan itu pula, saya akhirnya menerima tawaran pekerjaan di satu klinik di dekat tempat tinggal orang tua saya. Mereka meminta saya untuk pulang. Dua bulan bekerja benar-benar membuat saya malu. Setiap memeriksa pasien saya harus membuka kembali catatan kuliah saya karena saya tidak tahu, lupa dan ragu-ragu dengan diagnosis dan terapi yang saya buat.

Kemudian, datang tawaran dari senior saya untuk ikut mengembangkan kliniknya. Tawaran ini saya terima, karena setidaknya saya bisa belajar darinya. Tempatnya berjarak tiga jam perjalanan dari rumah orang tua saya, tetapi sudah terhitung pedesaan. Puraseda adalah sebuah desa di Bogor Jawa Barat. Alamnya berupa pegunungan yang didominasi perkebunan. Inilah awal saya belajar kembali bagaimana menjadi dokter. Senior saya benar-benar membimbing saya, mengajari bagaimana membuat diagnosis, memberi terapi dan berhubungan dengan masyarakat. Banyak pengalaman yang saya dapat, karena klinik ini dapat dikatakan single fighter di tempatnya. Rumah sakit terdekat berjarak satu setengah jam perjalanan. Laboratorium terdekat berjarak setengah jam, dan itupun terbatas, karena hanya laboratorium sebuah puskesmas rawat inap. Praktis mistra kami hanyalah puskesmas setempat, praktek dokter pribadi di dekatnya dan para bidan desa.

Datang tawaran lagi. Kali ini adalah dari klinik di daerah perindustrian di Cileungsi. Saya kembali menerimanya, dan memberikan kesempatan kepada teman saya yang baru lulus untuk menggantikan saya di Puraseda. Kembali ke kota. Daerah urban dengan banyak buruh pabrik yang menjadi pasiennya. Dibutuhkan pengetahuan, skill dan pendekatan terhadap pasien yang berbeda dengan klinik sebelumnya. Para pekerja ini biasanya tidak ingin berlama-lama sakit agar dapat kembali bekerja dan menghemat waktu absen. Tetapi ada juga pekerja yang nakal dan ingin berlama-lama mendapatkan ijin sakit. Karenanya kami juga menjalin komunikasi dan kerja sama dengan perusahaan tempat mereka bekerja.

wundi Saya hanya bertahan enam bulan di sini, karena tiba-tiba saya diterima menjadi dokter PTT. PTT adalah singkatan dari Pegawai Tidak Tetap. Program pemerintah untuk mengisi kekosongan dokter di berbagai daerah. Dulunya program ini diwajibkan untuk para dokter lulusan baru. Tetapi saat ini tidak lagi. Walaupun begitu, tetap ada nilai lebih bagi para dokter yang telah menjalani PTT. Karena itulah saya mencoba mendaftar. Tempat saya bertugas adalah Wundi, sebuah pulau di Kabupaten Biak Numfor, Propinsi Papua. Bertugas di tempat ini menumbuhkan rasa nasionalisme saya. saya menjadi bangga sekaligus malu dan sedih sebagai orang Indonesia. Saya menyadari betapa besarnya potensi yang dimiliki negara kita yang masih kita sia-siakan. Kita seharusnya bisa lebih baik lagi dalam membangun negara ini. Bayangkan, di distrik (distrik adalah sebutan untuk kecamatan di Papua) tempat saya bekerja, hanya tiga institusi pemerintahan yang berjalan, pemerintahan desa, puskesmas, dan pendidikan (yang hanyalah sebuah SD dengan seorang guru). Tidak ada polisi yang menjamin keamanan penduduknya (bangunan polsek yang kosong digunakan oleh bapak kepala desa untuk tempat tinggal :D). Tidak ada listrik, sarana air bersih, apalagi layanan transportasi umum.

Lagi-lagi cuma enam bulan saya menjalani PTT, karena memang kebijakan pemerintah untuk dokter yang ditempatkan di daerah yang termasuk kategori sangat terpencil. Sebenarnya waktu ini dapat diperpanjang, dan saya juga berminat untuk itu. Tetapi karena satu dan lain alasan, saya harus kembali ke Jawa. Kebetulan, saat pulang, dibuka pendaftaran PNS di tempat saya. saya pun mendaftar dan diterima. Penempatan pertama saya adalah di Puskesmas Penumping. Bekerja di tempat ini serasa kembali pulang ke rumah. Banyak guru saya semasa kuliah yang tinggal di wilayah ini. Bahkan terkadang beliau-beliau ini mencari rujukan peserta Askes ke tempat saya, malu rasanya menuliskan surat rujukan untuk guru saya yang notabene jauh lebih paham tentang penyakit.

Rupanya, tepat satu tahun, saya dipindahkan kembali. Puskesmas Sangkrah sangat membutuhkan dokter karena satu dokternya diangkat menjadi kepala puskesmas, dan dokter lainnya akan mengakhiri masa PTTnya. Kondisi sosiodemografisnya sangat berbeda dengan Penumping walaupun masih dalam satu kota. Penduduknya jauh lebih padat. Hampir dua kali lipat dari tempat bekerja saya yang lama, dan lebih beragam baik etnisnya maupun kultur sosialnya. Saya kembali merasakan keberagaman itu.

Memproyeksikan keberagaman itu dalam sistem

Menjadi dokter bukanlah pekerjaan mudah. Pendidikan selama 5-7 tahun bukanlah waktu yang cukup. Perkiraan waktu pendidikan ini berdasarkan pada lulusan tercepat dari tiap pusat pendidikan. Untuk diketahui bahwa saat ini kurikulum pendidikan dokter di Indonesia memang cukup luwes, sehingga aplikasinya menjadi beragam. Saat saya menjalani pendidikan, waktu normal yang dibutuhkan adalah 6 tahun. 8 semester untuk menjadi sarjana kedokteran ditambah 2 tahun untuk mengambil gelar profesi dokter. Di tempat saya saja cukup besar variasinya. Saya sendiri lulus dalam 7 tahun. Tetapi ada juga beberapa senior yang cukup awet di sana. Tapi, saat ini, dengan terobosan metode pembelajaran yang baru, waktu tersebut bisa dipercepat satu tahun. Waktu selama itu saja, saat ini rupanya masih belum cukup dianggap mumpuni. Saat ini lulusan fakultas kedokteran harus menjalani apa yang dinamakan Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) sebagai persyaratan memperoleh Surat Tanda Registrasi (STR) dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), yang selanjutnya dapat digunakan untuk bekerja, memperoleh Surat Ijin Praktek (SIP), melanjutkan pendidikan spesialis dan lain-lain. Jadi, saat ini, walau bisa lulus dalam waktu 5 tahun, masih ada waktu jeda yang lumayan untuk bisa bekerja.

Dokter yang ideal

Apakah peraturan itu sudah cukup? Sebuah penelitian dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 2006 dan merumuskan 7 aspek dalam dokter yang ideal menurut pasien, yaitu:

1. Confident, yaitu kemampuan dokter meyakinkan pasien.

2. Empathetic, atau kemampuan dokter untuk memahami apa yang dirasakan dan dialami pasien baik secara fisik maupun emosi, serta mengkomunikasikannya

3. Humane, dalam bahasa lain, penyayang, peduli dan baik.

4. Personal, dimana dokter tidak hanya menganggap pasien sebagai pasien, tetapi juga sebagai individu yang utuh dan unik.

5. Forthright, dokter mengatakan apa yang seharusnya diketahui pasien dalam bahasa yang mudah dipahami, lugas dan tidak ada yang disembunyikan

6. Respectful, atau mengambil apa yang dikatakan atau ditunjukkan pasien dengan serius dan menindak-lanjutinya dengan baik.

7. Thorough, seorang dokter harus konsisten, sadar dan berkonsentrasi penuh.

Kriteria di atas menunjukkan, bahwa pasien tidak pernah melihat apakah seorang dokter itu paling pintar atau paling bisa melakukan operasi. Ayah saya adalah seorang perokok berat yang sudah menjalani operasi pemasangan stent di jantungnya. Sebenarnya masih ada 2 sumbatan lagi di pembuluh darah koronernya, tetapi sumbatan itu tidak bisa ditembus. Sampai saat ini, beliau masih rutin berkonsultasi ke dokter jantungnya, minum obat yang jumlahnya seabrek dan tidak pernah mengeluh dalam menjalaninya. Satu-satunya alasan yang pernah dikatakan beliau adalah karena sang dokter tidak pernah peduli akan kebiasaannya merokok, berapa banyak beliau merokok setiap harinya, apalagi menyarankannya berhenti merokok. hehe..

Dokter yang ideal menurut saya bukanlah dokter yang bisa segalanya. Tetapi dokter yang tepat di tempat yang tepat. Dokter yang bisa menjawab kebutuhan kesehatan di tempatnya bekerja. Negara kita adalah negara yang sangat beragam. Kultur penduduknya yang mencakup bahasa, kebiasaan, kebudayaan dan cara pandang menuntut dokter untuk bisa menyesuaikan diri. Ketersediaan berbagai sarana kesehatan maupun sarana umum lainnya juga menuntut adaptasi tersendiri. Pola penyakit yang ada juga sangat beragam. Malaria sangat banyak terjadi di Papua, tetapi di Jawa, selama satu setengah tahun saya kembali ke sini, tidak lebih dari 10 pasien yang saya temukan. Padahal, seminggu bertugas di Papua, saya sudah bertemu dengan hampir 100 pasien malaria.

Waktu pendidikan dokter yang terbatas tidak akan pernah bisa memproyeksikan keberagaman ini. Karena itu, seorang dokter haruslah selalu menjadi pembelajar selama hidupnya. Konsep Continuing Medical Education (CME) atau pendidikan kedokteran berkelanjutan saat ini tengah marak dikembangkan dalam integrasi sebagai syarat untuk memperpanjang masa berlaku STR.

Haruslah ditanamkan semangat untuk belajar tidak hanya sebagai sebuah persyaratan, untuk memperbaharui ilmu pengetahuan kedokteran yang dimilikinya, atau untuk menambah kemampuan psikomotor. Tetapi yang juga penting adalah memperkaya khasanah emosional kita. Menyiapkan diri kita agar selalu lebih baik lagi dalam bekerja, dimanapun tempatnya. Dan saat ini, saya tengah merasakan dan merayakan keberagaman itu. Terima kasih Tuhan.

Tulisan ini disertakan dalam Writing Contest Pesta Blogger 2010. Silahkan ikut mendaftar

5 thoughts on “Merayakan keragaman? Saya baru saja.”

  1. Saya juga eks-PTT. Setelah menjalani kerja itu, saya menyadari bahwa pendidikan kita selama 6 tahun itu tidak membumi atau menyentuh kebutuhan masyarakat.
    Mahasiswa kedokteran mestinya turun ke Puskesmas lebih awal, bukan hanya ketika KKN atau stase Public Health saja.

Komentar ditutup.