Mama

yangma

Percayakah Anda, bahwa wanita cantik di sebelah kiri adalah seorang penjual tempe keliling? Bahwa laki-laki bertampang ancur di sebelah kanan adalah seorang dokter? Bahwa mereka adalah sepasang ibu dan anak? Kalau tidak percaya, mohon maaf, saya terpaksa merusak asumsi Anda.😀

Foto ini diambil pada tanggal 28 November 2007 di pelataran parkir Balai Sidang Jakarta Convention Center (JCC), bertepatan dengan hari wisuda adik saya menjadi seorang Sarjana Ilmu Komunikasi (S.iKom) dari Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama). Itu undangannya dipegang mama, tapi sayangnya tidak begitu jelas kelihatan.

Senyuman itu bukan senyuman yang mengada-ada. Kebanggaan akan pencapaian kerja-kerasnya, dapat meluluskan saya menjadi seorang dokter, dan adik saya menjadi seorang jurnalis. Waktunya memang berdekatan. Saya lulus menjadi dokter 7 bulan sebelumnya. 3 tahun selisih kami sebenarnya. Jadi ketika saya masuk SMA, adik saya juga masuk SMP, ketika saya masuk kuliah, adik saya masuk SMA. Terbayang pastinya beban keuangan orang tua kami. Yang payah, sementara adik saya stay high (dia tidak pernah dapat IP di bawah 3), prestasi kuliah saya terjun bebas. Jadilah kami lulus dalam waktu yang hampir bersamaan juga. Gak tau deh, mereka udah ngutang kemana aja.

Mama sebenarnya tidak hanya berjualan tempe. Mulai dari berjualan alat kosmetik Avon (Barusan googling untuk mencari link Avon Indonesia, ternyata perusahaan ini sudah tutup sejak Februari 2006). Kemudian kosmetik Wardah dari MLM AhadNet yang katanya lebih Islami. Itulah mengapa Mama terlihat cantik dan selalu cantik. Karena beliau juga pandai berdandan dan merawat dirinya akibat pengalamannya menjadi franchise dua produk itu. Mama juga sempat menjadi member MLM CNI. Entah apa sebabnya mama kemudian berhenti. Kalau saya menduga, uang cash yang ada banyak yang terpakai untuk biaya hidup dan sekolah kami. Sementara produk aneh-aneh yang dijual itu pangsa pasarnya tertentu saja, sehingga perputaran uangnya lambat.

Mama kemudian lebih memilih untuk berjualan produk yang lebih membumi. Makanan ringan biasanya. Roti, tahu, tempe, dan terakhir kadang kedelai. Beberapa diambilnya dari produsen untuk diteruskan dijual ke warung-warung kecil. Tetapi terakhir kali, hampir semua yang dijualnya adalah produk sendiri di rumah dan sudah diolah menjadi makanan jadi. Dengan bahan baku kedelai, beliau kemudian membuat tempe, dan tempe itu lalu diolah lagi menjadi kripik tempe. Pekerjaan ini hanya dilakukan oleh papa dan mama, tanpa bantuan pekerja lain. Saya? Sejak SMA saya sudah tidak satu rumah dengan mereka, karena jarak sekolah yang jauh sehingga disuruh nge-kost (alibi nih ceritanya). Paling mentok, saya bantu mengantarkan barang ke warung-warung saat liburan. Mungkin karena proses pengolahan yang terlalu panjang, akhirnya kedelai itu langsung digoreng saja dan dijual as is apa adanya.😀

Yang luar biasa sebenarnya bukan pada proses produksinya ini, tetapi justru jaringan pemasarannya. Tempat tinggal kami di Serpong. Bukan di BSD dan perumahan sekitarnya yang baru-baru itu loh. Kalau itu kan rumahnya orang berduit. Dan suatu hari saya pernah mengantarkan mama memasok kedelai gorengnya ke perkantoran di Jalan Jendral Sudirman. Kalau Anda tahu, ditempuh dengan apapun, Serpong ke Sudirman tetap saja jauh. Kalau tidak salah ada tiga gedung yang dimasuki. Dan saat itu, kami berangkat dengan sarana transportasi umum. Kami tidak punya mobil. Naik motor? Jangan deh. Lebih baik motor dititipkan saja di Stasiun KA Serpong. Saya sempat menggerutu karena lelah. Tapi mama tetap berjalan di depan saya dengan semangat. Belum lagi jaringannya ke arah barat hingga Parungpanjang, ke selatan di Bogor, atau ke utara hingga Mauk, Tangerang. Outstanding Moms..

Kalau saat berjualan dan menggoreng tempe, penampilannya tidak seperti di foto itu. Tanpa riasan, jilbab model bergo, kaos dan celana training, jaket kelas SMA saya yang setia dipakainya untuk  melindungi dari terpaan angin saat mengendarai motor Honda Astrea Prima, dan helm yang tidak ada kacanya. Mama berdandan seperti itu mungkin hanya sekali dua kali setiap tahun dalam acara tertentu.

Mama biasa bangun pagi-pagi sekali sebelum subuh. Selain menyiapkan dagangan, beliau juga harus membangunkan adik saya untuk berangkat kuliah. Kalau ada jadwal kuliah pagi, adik saya memang harus sudah di perjalanan pukul 5, karena kemacetan di Jakarta. Kampus adik saya ada di Jalan Hang Lekir Jakarta Pusat. Sebenarnya Kampus II Moestopo di Bintaro (Jalan Bintaro Permai Raya No.3 Jakarta Selatan), yang berdekatan dengan Wisma Garuda Food (tempat Customer Service Gery Chocolatos, Jalan Bintaro Raya 10 A Jakarta Selatan), memang lebih dekat dari rumah. Tetapi Kampus itu hanya diisi oleh Fakultas Kedokteran Gigi.

Setelah mengantarkan adik ke tempat mangkal angkot, dimulailah hari-hari perjuangannya mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk anak-anaknya.

Alhamdulillah, saat ini kami sudah lulus. Mama sudah bisa mengurangi aktivitas berjualannya, dan menemani papa di rumah. Papa memang masih aktif bekerja sebagai PNS. Terkadang saya menyayangkan pilihan adik saya untuk bekerja di kota lain, setidaknya, walau Jakarta sudah penuh sesak, ia bisa menemani Papa dan Mama. Tetapi keluarga kami memang keras kepala. Sekali layar terkembang, pantang kapal tersurut mundur. Sedih rasanya jika datang sms dari mama yang bilang lututnya sakit. Mama menderita osteoartritis yang tinggi prevalensinya pada wanita usia menopause, apa lagi mereka yang dulunya pekerja keras. Dan usaha maksimal yang bisa saya lakukan hanyalah mengirim sms untuk petunjuk beliau membeli obat ke apotik. Sementara di sini puluhan orang setiap hari menerima pelayanan terbaik saya.

Kau memberikanku hidup
Kau memberikanku kasih sayang
Tulusnya cintamu, putihnya kasihmu
Takkan pernah terbalaskan

Hangat dalam dekapanmu
Memberikan aku kedamaian
Eratnya pelukmu, nikmatnya belaimu
Takkan pernah terlupakan

Oh Ibu terima kasih
Untuk kasih sayang yang tak pernah usai
Tulus cintamu takkan mampu
Untuk terbalaskan

Oh Ibu semoga Tuhan
Memberikan kedamaian dalam hidupmu
Putih kasihmu kan abadi
Dalam hidupku

Oh Ibu terima kasih
Untuk kasih sayang yang tak pernah usai
Tulus cintamu takkan mampu
Untuk terbalaskan

Oh Ibu semoga Tuhan
Memberikan kedamaian dalam hidupmu
Putih kasihmu kan abadi
Dalam hidupku

Ooohh putih kasihmu kan abadi
Dalam hidupku

Artikel ini dikirim untuk Lomba Blog 1000 Kisah Tentang Ibu dan di tampilkan di note facebook saya

ungu

Artikel ini masuk dalam nominasi 20 pemenang lomba.

doa untuk ibu

menang

9 thoughts on “Mama”

  1. sangat menginspirasi😉
    seorang Ibu memang sangat luar biasa ya perjuangannya
    mamanya hebat, salam untuk beliau.

  2. Cerita yang sedikit mengharukan. Kerja keras seorang ibu yang juga mirip dengan ibu saya. Ortu utang sana-sini cuma untuk mementingkan pendidikan ketiga anaknya sampai jenjang kuliah. Tetap semangat kawan.

  3. hmm daerah mana tu yah, saya di Bojonegoro Jatim, cerita dikit ndak apa to? istri tak ajak ke Bojonegoro, dia asli palangkaraya alhamdulilah masuk CPNS bersama 16 dokter umum dan 6 spesialis kalo nggak salah, skrg ya di puskesmas ngasem Bojonegoro, baru 2 minggu, sekarang saya yang ngalah mbajak ke kota Bjn, dulu istri mbajak ke ngasem selama 2 th. impas dah:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s