Perkembangan bisnis di Indonesia dalam dekade terakhir

Tanah airku aman dan makmur
pulau kelapa yang amat subur
pulau melati pujaan bangsa
sejak dulu kala

Sebait lagu nasional karya Ismail Marzuki dengan judul Rayuan Pulau Kelapa ini memang sesuai dengan keadaan negeri kita. Negeri ini adalah negeri yang sangat subur.

Sumber daya alam Indonesia ini dahulu menjadi rebutan negara kolonialis. Sayangnya, dengan modal ini, Indonesia tidak mampu berbicara banyak untuk menyejahterakan rakyatnya.

Iklim bisnis

Iklim alam yang baik, rupanya tidak menjamin iklim bisnis di Indonesia sama baiknya. Menurut survei International Finance Corporation (IFC) dalam laporan peringkat Doing Bussiness 2010 membuktikan sistem birokrasi di Tanah Air yang berliku dan ketidakpastian kebijakan regulator masih menjadi momok masuknya investasi asing.

Walaupun begitu, rupanya peringkat yang hanya berada di posisi ke-122 ini masih lebih baik dibandingkan peringkat tahun sebelumnya yang berada di peringkat ke-129. Sayangnya peringkat ini masih kalah jauh dibandingkan dua negara miskin di Afrika, yaitu Zambia (90) dan Ghana (92), apalagi negara tetangga kita di Asia Tenggara seperti Singapura (1), Thailand (12), Malaysia (23), Vietnam (93) dan Brunei Darussalam (96).

Laporan ini mencatat beberapa aspek dalam iklim bisnis, yaitu prosedur untuk memulai bisnis (dimana Indonesia berada di urutan ke-9 se-Asia Tenggara), biaya yang dibutuhkan untuk memulai usaha dibandingkan dengan pendapatan perkapita (yang ternyata Indonesia masih lebih malah dibandingkan Malaysia dan Singapura), biaya minimum yang dibutuhkan untuk memulai usaha dibandingkan perdapatan per kapita (59,7%, masih sangat mahal).

Sejalan dengan hasil survey, Sofyan Wanandi, Ketua Umum Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia) menyatakan, “Itu karena masalah kita sendiri yang ada tiga macam yaitu infrastruktur, birokrasi, dan ketidakpastian-ketidakpastian yang menyangkut aturan/regulasi.”

Daya saing

Dari sistem peringkat lain yang dikeluarkan World Economic Forum (WEF) dalam Global Competitiveness Report 2010/2011, Indonesia masuk peringkat ke-44 dari 132 negara. WEF mengukur daya saing suatu negara berdasarkan sejumlah faktor daya saing, termasuk kelembagaan, infrastruktur, kesehatan dan pendidikan, ukuran pasar dan lingkungan makroekonomi. Laporan tersebut juga memperhitungkan hasil survei di kalangan pemimpin bisnis mengenai transparansi dan efisiensi di pemerintahan. Dalam penilaiannya mengenai Indonesia, WEF mengemukakan kenaikan peringkat daya saing Indonesia itu terutama karena terdorong oleh lingkungan makroekonomi yang lebih sehat dan membaiknya indikator-indikator pendidikan.

Lalu bagaimana?

Saya tidak ingin berpanjang lebar membahas tentang peringkat bisnis Indonesia ini. Menurut saya, semua itu hanya angka di atas kertas atau di layar komputer, jika pada kenyataan riilnya, tidak ada perubahan yang bermakna.

Beberapa hari lalu, saya menemukan situs yang menayangkan kata-kata ini di halaman depannya,

Frigz itu seperti Facebook, Friendster, Kombes, dan lainnya yang semua itu merupakan jejaring sosial atau Social Network. Tapi Frigz tampil beda. Frigz hanya merambah kalangan bisnis. Namun, tidak menutup kemungkinan bagi Anda yang tidak tahu menahu tentang bisnis untuk bergabung di sini.
Di Frigz, kita bisa saling berinteraksi untuk menghubungkan orang per orang, pembeli dengan penjual, pengecer dengan grosiran, produsen dengan konsumen, akademisi dengan praktisi, dan seterusnya. Untuk menggali ide bagi perusahaan, untuk menyampaikan keluhan bagi konsumen, untuk berdiskusi lebih dalam untuk para pelaku bisnis, untuk berdiskusi antara praktisi dan akademisi, antara UKM dengan pemerintah, antara atasan dan bawahan, antara karyawan dan pengusaha.
Ya, berinteraksi. Semua berinteraksi menjadi satu dalam Frigz.com, Komunitas Bisnis Indonesia Online. Bukan hanya forum jual beli, namun juga ajang persahabatan, relasi, partner, mitra bahkan mungkin jodoh.
Mari bergabung, menjadi satu kesatuan relasi yang kuat dan bermartabat untuk mewujudkan Indonesia makmur dan sejahtera.
Ingin ikut andil dalam mewujudkan kesejahteraan Indonesia? Gabung di Frigz.com

Kata-kata yang sederhana, tapi jika kita pahami lebih lanjut, mungkin ini yang bisa menembus permasalahan iklim bisnis kita seperti yang diungkapkan Sofyan Wanandi. Infrastruktur, Birokrasi dan Regulasi.

Praktis, dengan berbisnis melalui Internet, Internet Marketing, tidak dibutuhkan infrastruktur yang besar dan berbiaya relatif murah. Regulasi dan birokrasinya pun bisa dikatakan minimal sekali. UU ITE yang saat ini ramai dibicarakan, saya melihatnya justru sebagai nilai tambah iklim bisnis di dunia maya.

Komunitas bisnis online Indonesia sepertinya bisa menjadi solusi agar iklim bisnis di Indonesia menjadi lebih baik. Kita lihat saja.

Referensi

Adhiprana, R.I., 2010, Iklim Bisnis Indonesia Masih Dijauhi Investor, [online], (http://www.indonesia-monitor.com/main/index.php?option=com_content&task=view&id=4350&Itemid=50, diakses tanggal 15 Oktober 2010)

Purboyo, M.R., 2010, Bisnis today: RI kejar ranking investasi, [online], (http://www.bisnis.com/berita-populer/1id207481.html, diakses tanggal 15 Oktober 2010)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s