Sudah 50 tahun sejak resusitasi jantung paru diperkenalkan (perubahan teknik resusitasi jantung paru)

CPR training
Image via Wikipedia

Menyongsong 50 tahun usia teknik resusitasi jantung paru, harus kita sadari bahwa disamping perkembangan yang cukup baik dalam cara penanganannya dan pencegahannya, gagal jantung tetap menjadi masalah utama di masyarakat.

Dalam Journal of American Heart Association yang terbaru, muncul panduan terbaru untuk resusitasi jantung paru (RJP, RKP Resusitasi Kardio Pulmonal, CPR Cardiopulmonary Resuscitation) bagi para penderita henti jantung. Panduan ini bisa dibilang cukup menghebohkan karena muncul beberapa rekomendasi yang berbeda dari kebiasaan yang telah dipraktekkan selama 50 tahun sejak teknik RJP diperkenalkan. Walaupun teknologi telah cukup banyak membantu, seperti misalnya penemuan alat pacu jantung automated external defibrillators (AEDs), tetapi pertolongan pertama yang membantu hanya dapat diberikan oleh orang yang berada di dekat korban (bystander). Karena itu perlu dikembangkan teknik pertolongan pertama yang handal dan mudah dijalankan untuk meningkatkan keberhasilan teknik ini.

Di antara perubahan-perubahan yang perlu diperhatikan adalah:

Perubahan dari “A-B-C” menjadi “C-A-B”

Terdapat perubahan langkah dalam BLS (Basic Life Support) atau BHD (Bantuan Hidup Dasar) dari “A-B-C” (Airway/Jalan nafas, Breathing/nafas, Chest Compression/kompresi dada) menjadi “C-A-B” (Chest Compression/Kompresi Dada, Airway/Jalan Nafas, Breathing/Nafas) untuk pasien dewasa dan pediatri (anak-anak, bayi dan balita, tidak termasuk di dalamnya bayi baru lahir / newborn). Walau penting untuk mengurangi waktu jeda sebelum kompresi jantung pertama (first compression) tetapi para ahli juga berpendapat bahwa akan sulit kiranya melakukan pembelajaran ulang (re-education) terhadap setiap orang yang telah terlatih dengan tahapan A-B-C. Mengapa rekomendasi ini dibuat? Alasannya adalah:

Sebagian besar gagal jantung terjadi pada orang dewasa, dan angka harapan hidup (survival rate) tertinggi terdapat pada pasien VF (Ventricular Fibrillation) atau VT (Ventricular Tachycardia) yang tidak memunculkan denyut nadi (pulseless). Pada pasien ini, penanganannya adalah secepatnya dilakukan kompresi jantung atau defibrilasi (early defibrillation).

Pada langkah A-B-C, kompresi dada (Chest Compression) sering tertunda ketika responder membuka jalan nafas (Airway) untuk memberikan pernafasan mulut ke mulut (mouth-to-mouth breathing) atau untuk dipasang alat bantu nafas (ventilation equipment) lain. Dengan mengubah langkahnya menjadi C-A-B, kompresi dada dapat dimulai lebih awal dan ventilasi hanya terhambat sebentar (30 kompresi harus dilakukan dalam waktu 18 detik).

Hanya kurang dari 50% orang yang mengalami henti jantung yang sempat dilakukan RJP. Ada banyak alasan, tetapi yang paling berpengaruh mungkin adalah langkah A-B-C yang dimulai dengan prosedur tersulit, membuka jalan nafas dan mengirimkan nafas bantu. Memulai dari kompresi dada akan menambah jumlah korban yang sempat diberi kompresi dada dan orang orang (rescuer) yang tidak mau atau tidak bisa melakukan bantu nafas setidaknya bisa melakukan kompresi dada.

Referensi

Part 1: Executive Summary 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s