Perubahan dalam Guideline AHA 2010 untuk RJP

CPR training
Image via Wikipedia

Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau Basic Life Support (BLS) adalah dasar untuk menyelamatkan nyawa pada kejadian henti jantung. Dasar-dasar itu mencakup: (1) Mengenali tanda-tanda henti jantung (Recognition), (2) Memanggil sistem respons gawat darurat (Activation) dan (3) Memulai RJP dan defibrilasi lebih cepat.

Perubahan dalam Guideline AHA 2010 untuk RJP:

  • Algoritma BLS lebih disederhanakan. Protokol “look, listen and feel” (lihat, dengar dan raba) telah dihilangkan karena dianggap tidak konsisten dan menyita waktu. Lebih ditekankan untuk memanggil sistem respons gawat darurat dan memulai kompresi dada lebih dini.
  • Menekankan RJP dengan menggunakan kompresi dada saja (hands-only/compression only CPR) untuk penolong (rescuer) yang tidak terlatih.
  • Memulai kompresi dada sebelum memberikan nafas bantuan (C-A-B dan bukan A-B-C). Kompresi dada dapat dimulai dengan segera. Sedangkan memposisikan kepala, menangkupkan mulut pada nafas mulut ke mulut (mouth-to-mouth breathing) atau mengambil ambu-bag cukup menyita waktu.
  • Kualitas kompresi dada lebih ditingkatkan lagi, dari sebelumnya 1,5 sampai 2 inchi dalamnya menjadi 2 inchi saat ini.

Referensi

Part 1: Executive Summary 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care

4 thoughts on “Perubahan dalam Guideline AHA 2010 untuk RJP”

  1. Saya nggak bisa bayangkan. Liat orang yang dicurigai pingsan, tiba-tiba saya harus pencet dadanya..
    Bagaimana kalau sebenarnya kesadarannya oke? Tidakkah lantas saya akan dituduh malpraktek?

  2. itu juga jadi pertanyaan saya. masih nelaah guidelinenya. ada 16 part, belum lagi yg dr ILCOR yg jd referensi AHA. Sekilas tetep harus cek responsiveness, tp cara yg oke seperti apa blm jelas. kalo saya sih selalu konsisten dengan look-listen-feel.. dan tidak lebih dari 2 detik melakukannya.

    1. Salam kenal mas Is…

      Jawabannya adalah translate saya di

      http://anjangkn.wordpress.com/2010/11/19/bantuan-hidup-dasar-untuk-dewasa-adult-basic-life-support/

      Petugas harus segera meminta untuk dilakukan RJP jika korban tidak responsif atau pernafasannya tidak normal karena sebagian besarnya adalah henti jantung, dan frekuensi cedera akibat kompresi dada pada kelompok yang bukan henti jantung sangat rendah.

      Bahasa aslinya:

      Dispatchers should recommend CPR for unresponsive victims who are not breathing
      normally because most are in cardiac arrest and the frequency of serious injury from chest compressions in the nonarrest group is very low (Class I, LOE B).

      Apa itu Class I, LOE B?
      Adalah tingkatan pembuktian berdasarkan hasil penelitian.
      Class I berarti: benefit >>> risk, keuntungan jauh lebih besar dari risiko, prosedur/tindakan harus dilakukan.
      LOE (level of evidence) B berarti: populasi yang dievaluasi terbatas (ini dimaklumi karena penelitian terhadap orang henti jantung jelas terbatas), data diperoleh dari randomized trial tunggal/penelitian non randomized. Rekomendasi terhadap prosedur/tindakan adalah berguna/efektif.
      Lebih jelasnya di sini:
      http://anjangkn.wordpress.com/2010/11/20/aha-levels-of-evidence/

      Lalu penelitian mana yang menjadi dasar pernyataan ini?
      Yaitu penelitian yang dipublikasikan di sini:

      White L, Rogers J, Bloomingdale M, Fahrenbruch C, Culley L, Subido C, Eisenberg M, Rea T. Dispatcher-assisted cardiopulmonary resuscitation: risks for patients not in cardiac arrest. Circulation.121:91–97.

      Masih saya cari, insyaAllah segera dapat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s