Ketika seorang dokter mengalahkan dua presiden

Pada tanggal 11 November 2010, satu hari setelah hari pahlawan, bertempat di Istana Negara Jakarta, Presiden Republik Indonesia, menganugerahkan (alm) Dr Johannes Leimena dan (alm) Johanes Abraham Dimara gelar pahlawan nasional 2010. 

Leimena leimena 1

Sumber foto:

Saya agak terkejut dengan keputusan ini, karena sebelumnya santer sekali diberitakan tentang masuknya dua mantan Presiden kita, (alm) H.M. Soeharto dan (alm) K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Manusia sejatinya memang penuh kontroversi. Tidak ada pribadi yang sempurna, apalagi bila mencakup urusan orang banyak. Pastinya ada yang sejalan dan ada yang tidak. Manusia sejati adalah dia yang memiliki kawan dan lawan. Begitu seorang guru saya menasehati. Karenanya tidak perlu kita berusaha menyenangkan banyak orang, karena itu tidak mungkin. Selalu saja ada yang tidak menyukai.

Tapi mari kita sejenak melupakan kontroversi itu. Saya kemudian berusaha mencari tahu tentang profil dan sepak terjang keduanya. Sebelumnya, saya memang sering membaca nama J. Leimena di buku-buku dan catatan sejarah, tetapi hanya lintasan- lintasan nama yang bukan menjadi tokoh utama sehingga saya juga tidak begitu mengenal beliau. Sedangkan Abraham Dimara saya sama sekali tidak mengenalnya, kecuali nama famili Dimara yang cukup banyak di Biak, tempat saya PTT 2 tahun yang lalu.

Dan benar saja, ketika saya membaca profil singkat Abraham Dimara, ternyata beliau memang berasal dari sana, tepatnya daerah bernama Korem di Biak Utara. Beberapa pahlawan yang berasal dari Biak atau setidaknya pernah menginjakan kakinya di sini, yaitu: Frans Kaisiepo yang memang asli Biak, lalu Silas Papare, berasal dari Serui, satu pulau terdekat di selatan Biak, dan pernah dipenjarakan juga di Biak.

Sementara itu, saya lebih terkejut dan takjub lagi ketika membaca sejarah J. Leimena.. Wow..

Dari Indonesia Timur untuk menjadi Dokter

Lahir di Kota Ambon, 6 Maret 1905, Pada tahun 1914, Leimena hijrah ke Batavia (Jakarta) dimana ia meneruskan studinya di ELS (Europeesch Lagere School), namun hanya untuk beberapa bulan saja lalu pindah ke sekolah menengah Paul Krugerschool (kini PSKD Kwitang). Dari sini ia melanjutkan pendidikannya ke MULO Kristen, kemudian melanjutkan pendidikan kedokterannya di STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen), Sekolah Dokter Hindia – cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.. Umur 9 tahun Beliau sudah hijrah meninggalkan kampung halamannya untuk menempuh pendidikan yang lebih baik. Beliau lulus tahun 1930. Agak aneh memang, jika MULO adalah setingkat SMP saat ini. Tapi melihat waktu studinya yang 10 tahun, terdiri dari 3 tahun persiapan dan 7 tahun studi kedokteran, maka penjenjangan ini dapat dimaklumi.

Ia melanjutkan pendidikan di Geneeskunde Hogeschool (GHS – Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta yang diselesaikannya pada tahun 1939. Sembilan tahun kemudian, dan menjadi doktor dengan disertasi berjudul Leverfunctie proeven bijinheesmschen. Kenang Mayjen Prof Dr Satrio, “Sebagai mahasiswa kedokteran tingkat IV, saya merasa bangga sekali ketika bisa
menyaksikan seorang dokter pribumi menjadi doktor.”

Leimena doktorFoto:  Pesta keluarga sesudah menerima gelar Doctor in de Geneeskunde pada tanggal 17 November 1939. Dari kiri ke kanan: J. Lawalata, Karah/anak, Dr. J. Leimena, Ibu Tjitjih Wiyarsih Leimena, Sin Lawalata, Lies Lawalata. (http://www.leimena.org)

Merumuskan Sumpah Pemoeda

Sebagai wakil dari Jong Ambon, Leimena muda (23 tahun) hadir dalam Kongres Pemoeda II di Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 – 28 Oktober 1928 yang di dalamnya kemudian dirumuskan teks Sumpah Pemuda yang terkenal itu.

peserta-kongres-pemuda2 Foto: Sebagian peserta Kongres Pemuda II (Oktober 1928) berfoto di halaman gedung Indonesische Clubgebouw (sekarang Gedung Sumpah Pemuda) di Jakarta. Dr. J. Leimena menjadi sekretaris dalam kongres yang menghasilkan Sumpah Pemuda yang terkenal itu. (http://www.leimena.org)

Menjadi relawan Merapi

Leimena mulai bekerja sebagai dokter sejak tahun 1930. Pertama kali diangkat sebagai dokter pemerintah di “CBZ Batavia” (kini RS Cipto Mangunkusumo). Tak lama ia dipindahtugaskan di Karesidenan Kedu saat Gunung Merapi meletus. Setelah itu dipindahkan ke Rumah Sakit Zending Immanuel Bandung. Di rumah sakit ini ia bertugas dari tahun 1931 sampai 1941.

Menteri Kesehatan yang paling laris

Di bidang pemerintahan, kariernya terus naik, mulai dari Menteri Muda Kesehatan Kabinet Sjahrir II pada 1946, Menteri Kesehatan Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II pda 1947, Menteri Kesehatan Kabinet Hatta I dan II pada 1949, hingga Wakil Perdana Menteri untuk urusan Umum Kabinet Dwikora III pada 1966.

Jabatan Menteri Kesehatan yang pernah disandang J. Leimena

Kabinet Mulai Selesai
Amir Sjarifuddin I 3 Juli 1947 11 November 1947
Amir Sjarifuddin II 11 November 1947 29 Januari 1948
Hatta I 29 Januari 1948 4 Agustus 1949
RIS 20 Desember 1949 6 September 1950
Natsir 6 September 1950 27 April 1951
Sukiman Suwirjo 27 April 1951 3 April 1952
Wilopo 3 April 1952 30 Juli 1953
Burhanuddin Harahap 12 Agustus 1955 24 Maret 1956

  Kabinet_SjahrirFoto: Perjalanan dinas para Menteri Republik Indonesia di front Jawa Timur. Mereka sedang menunggu kereta di Stasiun Mojokerto yang akan membawa kembali ke Yogyakarta. Tanpa uang dinas perjalanan, tanpa ruang VIP. ki-ka: Mr. Tan Po Goan (Menteri Negara), Mr. Amir Syarifuddin (Menteri Pertahanan), Agus Yaman (Badan Penghubung), Mr. Maria Ulfah (Menteri Sosial), Dr. Johanner Leimena (Menteri Kesehatan), Mr. Ali Budiarjo (Sekretaris Negara), Adnan Kapau Gani (Menteri Kemakmuran) dan Sutan Syahrir (Perdana Menteri). (http://www.leimena.org)

Merumuskan Puskesmas

Berdasarkan pengalaman bekerja di rumah sakit Immanuel Bandung, Dr Leimena membuat pusat percontohan yang disebut Bandung Plan. Rencana Bandung ini yang kemudian disebarluaskan ke berbagai daerah di Indonesia tahun 1954–1960 dengan nama “Rencana Leimena” (dengan dua prinsip, penggabungan upaya preventif dan kuratif, serta perimbangan kegiatan perdesaan dan perkotaan). Karena keterbatasan dana, program ini tidak bisa menyentuh seluruh Indonesia. Tahun pertama, kabupaten yang terpilih akan mendapat pusat kesehatan di suatu kecamatannya. Setiap dua tahun sekali ditambah dengan satu lagi pusat kesehatan di kecamatan lain. Di ibu kota kabupaten akan dibangun rumah sakit pembantu dan lima tahun kemudian ditambah satu lagi. Rencana Leimena ini yang kemudian menjadi cikal bakal puskesmas pada masa Orde Baru.

Leimena menganggap, memperbanyak jumlah balai pengobatan di daerah luar kota (desa) sangat perlu dengan alasan, ketika itu di Indonesia ada 28.000 desa. Namun, tidak semua desa berekonomi kuat. Apalagi, Sumber Daya Manusia sedikit dan terbatas sifatnya. Begitu pula halnya dengan fasilitas kesehatan. “Rakyat desa tak boleh hanya dilayani dengan tindakan preventif, tapi juga usaha kuratif,” tegasnya di masa itu.

Inilah warisan yang ditinggalkan Leimena, sebuah perlindungan kesehatan. Pembangunan Puskesmas ini mendapatkan penghargaan dari WHO dan dijadikan sebagai contoh negara-negara lain di dunia.

Boleh jadi, debut Leimena di bidang politik adalah salah satu alat baginya untuk memperjuangkan kesehatan rakyat Indonesia. Hal ini bukan mustahil, melihat upaya-upaya yang “murni untuk kesehatan rakyat” yang dilakukan J. Leimena tatkala ia duduk sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Mungkin alasan itu pulalah yang menyebabkan negeri ini berkali-kali mempercayakan urusan kesehatan pada dirinya. Kepedulian Leimena yang besar pada masalah kesehatan rakyat!

Kepedulian pada kesehatan rakyat ini boleh jadi merupakan gugatan nurani Leimena saat melihat penderitaan rakyat selama berabad-abad dijajah. Gugatan nurani Leimena ini tergambar dalam beberapa buah buku yang ia tulis. Diantaranya, “Membangun Kesehatan Rakjat” (Noordhoff-Kolff N.V. 1952 Djakarta), “Kesehatan Rakjat di Indonesia” (Van Dorf 1956) dan “Public Health in Indonesia” (Van Dorf 1956). Buku-buku tersebut adalah saksi kepedulian Leimena pada masalah kesehatan rakyat Indonesia.

Menyelamatkan Soekarno

Jumat malam tanggal 1 Oktober 1965 suasana Jakarta waktu itu telah jadi serba tak menentu. Segerombolan pasukan militer dan massa komunis menculik dan langsung membunuh sejumlah jenderal, termasuk Panglima Angkatan Darat Letjen Achmad Yani. Di pagi hari, Bung Karno diselamatkan Letkol (CPM) Saelan, Wa Dan Tjakrabirawa, dan dibawa ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Tetapi, menjelang sore suasana di Halim berubah menjadi arena kegiatan para perwira bercampur sejumlah pejabat tinggi yang datang memenuhi panggilan Bung Karno.Di antaranya Johannes Leimena yang waktu itu Wakil Perdana Menteri (Waperdam) II. Sementara Bung Karno sibuk mengkaji suasana, di Jakarta Panglima Kostrad Mayjen Soeharto yang merasa kehilangan enam pejabat teras Markas Besar AD, didampingi Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal AH Nasution yang menderita luka-luka, justru sedang bersiap untuk menyerbu Halim. Pada saat kritis karena Bung Karno harus segera meninggalkan Halim, Leimena masuk ke kamar Bung Karno. Tidak jelas apa yang dibicarakan, yang pasti Bung Karno akhirnya tidak jadi terbang ke Yogya, tetapi justru memutuskan untuk mengungsi ke Istana Bogor. “… Kalimat yang lebih tepat, Bung Karno bukan sekadar memenuhi saran Pak Leimena untuk ke Bogor, tetapi didorong masuk ke mobil dan langsung ditemani,” kata Sabam Sirait, kini anggota DPR dari PDI-P dan waktu itu Sekjen Partai Kristen Indonesia (Parkindo) di bawah pimpinan Leimena.

Ini mungkin yang membuat Sukarno benar-benar percaya pada Leimena. Di masa demokrasi kepemimpinan, dari tiga wakil presiden, dia selalu yang ditunjuk menjadi pejabat kepemimpinan. Artinya, seandainya Bung Karno wafat di perjalanannya di luar negeri, dia, yang beragama Kristen otomatis menjadi pemimpin Indonesia yang mayoritas beragama Muslim.

leimena pejabat presiden Foto: Dr. J. Leimena sedang menandatangani surat pengangkatan sebagai Pejabat Presiden R.I. disaksikan Presiden Soekarno pada tahun 1961. (http://www.leimena.org)

Etika dokter

Masalah moralitas kemudian menjadi masalah yang juga teramat diperhatikan oleh J. Leimena. Moralitas yang dimaksud adalah moralitas pada para dokter. Bagi Leimena, tugas dokter merupakan tugas suci yang mesti diemban dengan sebaik-baiknya. Dokter bertugas melakukan pelayanan sosial. Namun ada masalah yang timbul setelah berakhirnya Perang Dunia ke-II, yaitu semakin menurunnya tingkatan etika dari para pegawai yang bekerja di lapangan kedokteran, seperti dokter, bidan, jururawat dan sebagainya. Hal ini tergambar pada hampir semua negara di seluruh dunia. Oleh karena itu, Leimena mengusahakan agar di Indonesia tidak terjadi hal-hal yang bertentangan dengan etika kedokteran. Ini tertulis dalam bukunya “Dokter dan Moral (Etika Kedokteran, Dr J. Leimena, Noordhoff-Kolff NV, 1951, Djakarta).

Gebrakan J. Leimena yang lain adalah mengatur agar tidak terjadi plus-minus dalam penempatan pegawai medis dan pegawai para-medis (ahli obat, analis, kontrolir kesehatan, bidan, jururawat, mantri hygiene dan pendidik hygiene) di nusantara. Sebagai buktinya, Leimena pernah menyatakan Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan dan Malang sebagai tempat tertutup bagi praktek baru dokter gigi dan bidan (SK MenKes RI tanggal 15 Agustus 1951). Hal ini pun berlaku bagi para dokter yang akan membuka praktek di Makassar tahun 1951. Menurut Leimena, jumlah dokter di Makassar terlampau banyak dibandingkan tempat-tempat lain di Indonesia, maka ia menyatakan Makassar sebagai tertutup untuk menjalankan praktek baru bagi dokter (SK Menkes RI tanggal 18 Oktober 1951).
Tak dapat dipungkiri, J. Leimena adalah sosok multidimensial. Mungkin tiada yang tahu apa yang ada dalam benaknya; berkarier di dunia politik untuk mendukung kemajuan dunia kesehatan Indonesia, ataukah gebrakannya di dunia kesehatan untuk menunjang karier politiknya. Walau demikian, apa yang telah dilakukan J. Leimena tercatat sebagai sesuatu yang besar. J. Leimena telah berbuat, dan sejarah negeri ini mencatatnya dengan tinta emas. Terutama, apa yang telah dia perbuat bagi kesehatan rakyat kecil, rakyat desa, rakyat terbesar yang dimiliki negeri ini, negeri Indonesia.

Usia senja

Ketika Orde Baru berkuasa, Leimena mengundurkan diri dari tugasnya sebagai menteri, namun ia masih dipercaya Presiden Soeharto sebagai anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung) hingga tahun 1973. Usai aktif di DPA, ia kembali melibatkan diri di lembaga-lembaga Kristen yang pernah ikut dibesarkannya seperti Parkindo, DGI, UKI, STT, dan lain-lain. Ketika Parkindo berfusi dalam PDI (Partai Demokrasi Indonesia, kini PDI-P), Leimena diangkat menjadi anggota DEPERPU (Dewan Pertimbangan Pusat) PDI, dan pernah pula menjabat Direktur Rumah Sakit DGI Cikini. Leimena meninggal dunia di Jakarta pada 29 Maret 1977.

Silahkan pembaca menarik kesimpulan sendiri, mengapa kemudian dua presiden kita dapat kalah oleh beliau.

Referensi dari berbagai sumber.

2 thoughts on “Ketika seorang dokter mengalahkan dua presiden”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s