Tatalaksana Tuberkulosis (TB) Anak

 

Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis baik overdiagnosis maupun underdiagnosis. Pada anak-anak batuk bukan merupakan gejala utama. Pengambilan dahak pada anak biasanya sulit, maka diagnosis TB anak perlu kriteria lain dengan menggunakan sistem skor.

Unit Kerja Koordinasi Respirologi PP IDAI telah membuat Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak dengan menggunakan sistem skor (scoring system), yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. Pedoman tersebut secara resmi digunakan oleh program nasional penanggulangan tuberkulosis untuk diagnosis TB anak.

Setelah dokter melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor. Pasien dengan jumlah skor lebih atau sama dengan 6 (≥6) harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapatkan OAT (oabt anti tuberkulosis). Bila skor kurang dari 6 tetapi secara klinis kecurigaan ke arah TB kuat maka perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai indikasi, seperti bilasan lambung, patologi anatomi, pungsi lumbal, pungsi pleura, foto tulang dan sendi, funduskopi, CT-Scan, dan lain-lain.

Sistem skoring (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang TB

parameter 0 1 2 3 jumlah
kontak TB tidak jelas laporan keluarga, BTA negatif atau tidak tahu, BTA tidak jelas BTA positif
uji tuberkulin negatif positif (≥10mm atau ≥ 5mm pada keadaan imunosupresi)
berat badan/keadaan gizi bawah garis merah (KMS) atau BB/U <80% Klinis gizi buruk (BB/U<60%)
demam tanpa sebab yang jelas ≥ 2 minggu
batuk* ≥ 3 minggu
pembesaran kelenjar limfe koli, aksila, inguinal ≥ 1 cm, jumlah > 1, tidak nyeri
pembengkakan tulang/sendi panggul, lutut, falang ada pembengkakan
foto toraks normal/tidak jelas kesan TB
jumlah

Catatan:

  • Diagnosis dengan sistem skor ditegakkan oleh dokter.
  • *: Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik lainnya seperti asma, sinusitis dan lain-lain.
  • Jika dijumpai scrofuloderma**, pasien dapat langsung didiagnosis TB.
  • Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname), lampirkan tabel berat badan.
  • Foto toraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak.
  • Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal timbul<7 hari setelah peyuntikan) harus dievaluasi dengan sistem skoring TB anak.
  • Anak didiagnosis TB jika jumlah skor ≥6 (skor maksimal 13).
  • Pasien usia balita yang mendapat skor 5, dirujuk ke RS untuk evaluasi lebih lanjut.
  • Scrofuloderma** adalah bentuk reaktivasi infeksi TB, diawali oleh limfadenitis atau osteomielitis yang membentuk abses dingin dan melibatkan kulit di atasnya, kemudian pecah dan membentuk sinus di permukaan kulit. Skrofuloderma ditandai massa yang padat dan fluktuatif, sinus yang mengeluarkan cairan, ulkus dengan dasar bergranulasi dan tidak beraturan serta tepi menggaung dan sikatriks yang menyerupai jembatan. Biasanya ditemukan di daerah leher dan wajah, tetapi dapat juga dijumpai di daerah ekstremitas atau trunkus.

Perlu perhatian khusus jika dijumpai:

  • Tanda bahaya: kejang, kaku kuduk, penurunan kesadaran, dan kegawatan lain misalnya sesak nafas.
  • Foto toraks menunjukkan gambaran milier, kavitas,efusi pleura.
  • Gibbus, koksitis.

Sumber penularan dan case finding

Apabila kita menemukans seorang pasien anak dengan TB, maka harus dicari sumber penularan yang menyebabkan anak tersebut tertular TB. Sumber penularan adalah orang dewasa yang menderita TB aktif dan kontak erat dengan anak tersebut. Pelacakan sumber infeksi dilakukan dengan cara pemeriksaan radiologis dan BTA sputum (pelacakan sentripetal).

Bila telah ditemukan sumbernya, perlu pula dilakukan pelacakan sentrifugal, yaitu mencari anak-anak lain di sekitarnya yang mungkin juga tertular, dengan cara uji tuberkulin. Sebaliknya, jika ditemukan pasien TB dewasa aktif, maka anak di sekitarnya, atau yang kontak erat harus ditelusuri ada atau tidaknya infeksi TB (pelacakan sentrifugal). Pelacakan tersebut dilakukan dengan cara anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yaitu uji tuberkulin.

image001Setelah pemberian oabt selama 6 bulan, OAT dihentikan dengan melakukan evaluasi baik klinis maupun pemeriksaan penunjang lainnya. Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata walaupun gambaran radiologis tidak menunjukkan perubahan yang berarti, maka pengobatan dihentikan.

OAT kategori anak

Prinsip dasar pengobatan TB anak adalah minimal 3 macam obat dan diberikan dalam waktu 6 bulan. OAT pada anak diberikan setiap hari, baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak.

Dosis OAT KDT anak

berat badan (kg) 2 bulan tiap hari RHZ (75/50/150) 4 bulan tiap hari RH (75/50)
5-9 1 tablet 1 tablet
10-14 2 tablet 2 tablet
15-19 3 tablet 3 tablet
20-32 4 tablet 4 tablet

Dosis OAT Kombipak anak: 2RHZ/4RH

jenis obat <10 kg 10-19 kg 20-32 kg
Isoniasid 50 mg 100 mg 200 mg
Rifampisin 75 mg 150 mg 300 mg
Pirasinamid 150 mg 300 mg 600 mg

Keterangan:

  • Bayi dengan berat badan <5 kg dirujuk ke RS.
  • Anak dengan BB ≥33 kg, dirujuk ke RS.
  • Obat harus diberikan secara utuh, tidak boleh dibelah.
  • OAT KDT dapat diberikan dengan cara: ditelan secara utuh atau digerus sesaat sebelum diminum.

Dosis OAT pada anak

nama obat dosis harian (mg/kgBB/hari) dosis maksimal (mg/hari) efek samping
Isoniasid 5-15* 300 hepatitis, neuritis perifer, hipersensitivitas
Rifampisin** 10-20 600 gastrointestinal, reaksi kulit, hepatitis, trombositopenia, peningkatan enzim hati, cairan tubuh berwarna orangye kemerahan
Pirasinamid 15-30 2000 toksisitas hati, artralgia, gastrointestinal
Etambutol 15-20 1250 neuritis optik, ketajaman mata berkurang, buta warna merah-hijau, penyempitan lapang pandang, hipersentivitas, gastrointestinal
Streptomisin 15-40 1000 ototoksik, nefrotoksik

*bila isoniasid dikombinasikan dengan Rifampisin, dosisnya tidak boleh melebihi 10mg/kgBB/hari.

**Rifampisin tidak boleh diracik dalam satu puyer dengan OAT lain karena dapat mengganggu bioavailabilitas Rifampisin. Rifampisin diabsorbsi dengan baik melalui sistem pencernaan pada saat perut kosong (satu jam sebelum makan).

Profilaksis untuk anak

Pada semua anak, terutama balita yang tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TB BTA positif, perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan sistem skoring. BIla hasil evaluasi dengan skoring didapat skor <5, kepada anak itu diberikan Isoniasid (INH) dengan dosis 5-10mg/kgBB/hari selama 6 bulan. Bila anak tersebut belum pernah mendapatkan imunisasi BCG, imunisasi dilakukan setelah pengobatan profilaksis selesai.

Referensi

Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Edisi 2 Cetakan Kedua. Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2008

Tatalaksana pasien tuberkulosis (TB):

Penemuan Pasien Tuberkulosis (TB)

Diagnosis Tuberkulosis (TB)

Klasifikasi Penyakit dan Tipe Pasien Tuberkulosis (TB)

Pengobatan Tuberkulosis (TB)

Tatalaksana Tuberkulosis (TB) Anak

Pemantauan dan Hasil Pengobatan Tuberkulosis (TB)

Pengobatan Tuberkulosis (TB) pada Keadaan Khusus

Efek Samping Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan Penatalaksanaannya

One thought on “Tatalaksana Tuberkulosis (TB) Anak”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s