Pengobatan Tuberkulosis (TB) pada Keadaan Khusus

Dalam tulisan ini, keadaan khusus yang dimaksud adalah:

  • kehamilan
  • ibu menyusui dan bayinya
  • pasien TB pengguna kontrasepsi
  • pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS
  • pasien TB dengan hepatitis akut
  • pasien TB dengan kelainan hati kronis
  • pasien TB dengan gagal ginjal
  • pasien TB dengan diabetes mellitus
  • pasien TB yang perlu mendapatkan tambahan kortikosteroid
  • indikasi operasi

Kehamilan

Pada prinsipnya, pengobatan TB pada kehamilan tidak berebda dengan pengobatan TB pada umumnya. Menurut WHO, hampir semua OAT aman untuk kehamilan, kecuali streptomisin. Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat permanent ototoxic dan dapat menembus barrier placenta. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari kemungkinan penularan TB.

Ibu menyusui dan bayinya

Pada prinsipnya, pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda dengan pengobatan pada umumnya. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT secara adekuat. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan kuman TB pada bayinya.

Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus disusui. Pengobatan pencegahan dengan INH diberikan pada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya.

Pasien TB pengguna kontrasepsi

Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB, suntikan KB, susuk KB), sehingga dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut. Seorang pasien TB sebaiknya menggunakan kontrasepsi non-hormonal, atau kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50mcg).

Pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS

Tatalaksana pengobatan TB pada pasien dengan infeksi HIV/AIDS adalah sama seperti pasien TB lainnya. Obat TB pada pasien HIV/AIDS sama efektifnya dengan pada pasien lain.

Prinsip pengobatan adalah dengan mendahulukan pengobatan TB. Pengobatan ARV (Antiretroviral) dimulai berdasarkan stadium klinis HIV sesuai dengan standar WHO. Penggunaan suntikan Streptomisin harus memperhatikan prinsip-prinsip universal precaution (kewaspadaan keamanan universal). Pengobatan pasien TB-HIV sebaiknya diberikan secara terintegrasi dalam satu UPK untuk menjaga kepatuhan pengobatan secara teratur.

Pasien TB yang berisiko tinggi terhadap infeksi HIV perlu dirujuk ke pelayanan VCT (voluntary counceling and testing=konsul sukarela dengan tes HIV).

Pasien TB dengan hepatitis akut

Pemberian OAT pada pasien TB dengan hepatitis akut dan atau klinis ikterik, ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. Pada keadaan dimana pengobatan TB sangat diperlukan dapat diberikan Streptomisin (S) dan Etambutol (E) maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan Rifampisin (R) dan Isoniasid (H) sampai 6 bulan.

Pasien TB dengan kelainan hati kronik

Bila ada kecurigaan gangguan faal hati dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan TB. Kalau SGOT dan SGPT meningkatkan lebih dari 3 kali OAT tidak diberikan dan bila telah dalam pengobatan, harus dihentikan. Kalau peningkatannya kurang dari 3 kali, pengobatan dapat dilaksanakan atau diteruskan dengan pengawasan ketat. Pasien dengan kelainan hati, Pirasinamid (Z) tidak boleh diberikan. Paduan OAT yang dapat dianjurkan adalah 2RHES/6RH atau 2HES/10HE.

Pasien TB dengan gagal ginjal

Isoniasid (H), RIfampisin (R) dan Pirasinamid (Z) dapat diekskresikan melalui empedu dan dapat dicerna menjadi senyawa-senyawa yang tidak toksik. OAT jenis ini dapat diberikan dengan dosis standar pada pasien dengan gangguan ginjal. Streptomisin dan Etambutol diekskresi melalui ginjal, oelh karena itu hindari penggunaannya pada pasien dengan gangguan ginjal. Apabila fasilitas pemantauan faal ginjal tersedia, Etambutol dan Streptomisin tetap dapat diberikan dengan dosis yang sesuai faal ginjal. Paduan OAT yang paling aamn untuk pasien dengan gagal ginjal adalah 2HRZ/4HR.

Pasien TB dengan Diabetes Mellitus

Diabetes harus dikontrol. Penggunaan Rifampisin (R) dapat mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes sulfonilurea sehingga dosis obat anti diabetes perlu ditingkatkan. Insulin dapat digunakan untuk mengontrol gula darah, setelah selesai pengobatan TB, dilanjutkan dengan antidiabetes oral. Pada pasien Diabetes Mellitus sering terjadi komplikasi retinopati diabetik, karenanya hati-hati dengan pemberian Etambutol karena dapat memperberatnya.

Pasien TB yang perlu mendapatkan tambahan kortikosteroid

Kortikosteroid hanya digunakan pada keadaan khusus yang membahayakan jiwa pasien seperti:

  • meningtis TB
  • TB milier dengan atau tanpa meningitis
  • TB dengan pleuritis eksudativa
  • TB dengan perikarditis konstriktiva

Selama fase akut prednison diberikan dengan dosis 30-40mg/hari kemudian diturunkan secara bertahap. Lama pemberian disesuaikan dengan jenis penyakit dan kemajuan pengobatan.

Indikasi operasi

Pasien yang perlu mendapatkkan tindakan operasi reseksi paru adalah:

  • TB paru:
    • Pasien batuk darah berat yang tidak dapat diatasi dengan cara konservatif
    • pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi secara konservatif
    • pasien MDR TB dengan kelainan paru yang terlokalisir
  • Untuk TB ekstra paru: Pasien TB ekstra paru dengan komplikasi, misalnya pasien TB tulang yang disertai kelainan neurologik.

Referensi

Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Edisi 2 Cetakan Kedua. Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2008

Tatalaksana pasien tuberkulosis (TB):

Penemuan Pasien Tuberkulosis (TB)

Diagnosis Tuberkulosis (TB)

Klasifikasi Penyakit dan Tipe Pasien Tuberkulosis (TB)

Pengobatan Tuberkulosis (TB)

Tatalaksana Tuberkulosis (TB) Anak

Pemantauan dan Hasil Pengobatan Tuberkulosis (TB)

Pengobatan Tuberkulosis (TB) pada Keadaan Khusus

Efek Samping Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan Penatalaksanaannya

2 thoughts on “Pengobatan Tuberkulosis (TB) pada Keadaan Khusus”

  1. dok, mau tanya..
    jenis TB apa saja si yang harus dirawat intensif di rumah sakit,,???
    teerima kasih sebelumnya🙂

    1. Kalo ada gejala kegawatan seperti sesak nafas yang berat, perdarahan profus, atau penyakit penyerta lain yg mengharuskan rawat inap. Juga TB MDR waktu awal2 harus rawat inap juga untuk monitoring efek sampingnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s