Ringkasan Resusitasi Jantung Paru (RJP)

Resusitasi jantung paru adalah serangkaian usaha penyelamatan hidup pada henti jantung. Walaupun pendekatan yang dilakukan dapat berbeda-beda, tergantung penyelamat, korban dan keadaan sekitar, tantangan mendasar tetap ada, yaitu bagaimana melakukan RJP yang lebih dini, lebih cepat dan lebih efektif. Untuk menjawabnya, pengenalan akan adanya henti jantung dan tindakan segera yang harus dilakukan menjadi prioritas dari tulisan ini.


Epidemiologi

Henti jantung menjadi penyebab utama kematian di beberapa negara. Terjadi baik di luar rumah sakit maupun di dalam rumah sakit. Diperkirakan sekitar 350.000 orang meninggal per tahunnya akibat henti jantung di Amerika dan Kanada. Perkiraan ini tidak termasuk mereka yang diperkirakan meninggal akibat henti jantung dan tidak sempat diresusitasi. Walaupun usaha untuk melakukan resusitasi tidak selalu berhasil, lebih banyak nyawa yang hilang akibat tidak dilakukannya resusitasi.

Sebagian besar korban henti jantung adalah orang dewasa, tetapi ribuan bayi dan anak juga mengalaminya setiap tahun. Henti jantung akan tetap menjadi penyebab utama kematian yang prematur, dan perbaikan kecil dalam usaha penyelamatannya akan menjadi ribuan nyawa yang dapat diselamatkan setiap tahun.

Prinsip utama dalam resusitasi: memperkuat rantai harapan hidup (chain of survival)

Keberhasilan resusitasi membutuhkan integrasi koordinasi jalur chain of survival. Jalur ini meliputi:

  • Pengenalan segera akan henti jantung dan aktivasi sistem respons darurat (emergency response system)
  • RJP  dini dengan penekanan pada kompresi dada
  • Defibrilasi cepat
  • Advance life support  yang efektif
  • Post-cardiac arrest care (perawatan pasca henti jantung) yang terintegrasi’

Sistem gawat darurat yang secara efektif menerapkan jalur ini dapat meningkatkan harapan hidup pasien dengan henti jantung VF (ventricle fibrillation) hingga 50%. Pada sebagian besar sistem gawat darurat angkanya masih lebih rendah, menandakan bahwa masih ada ruang untuk perbaikan dengan evaluasi ulang dari jalur ini.

Penyelamat dapat memiliki berbagai pengalaman, pelatihan dan kemampuan. Begitu pula dengan status korban dan keadaan sekitar kejadian. Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan RJP yang lebih dini dan lebih efektif bagi setiap korban.

Ringkasan komponen BLS (basic life support) bagi dewasa, anak-anak dan bayi

komponen dewasa anak-anak bayi
pengenalan tidak responsif, tidak bernafas atau tersedak (gasping) tidak responsif, tidak bernafas atau tersedak (gasping) tidak responsif, tidak bernafas atau tersedak (gasping)
  Nadi tidak teraba dalam 10 detik Nadi tidak teraba dalam 10 detik Nadi tidak teraba dalam 10 detik
urutan RJP CAB CAB CAB
kecepatan kompresi 100/menit 100/menit 100/menit
kedalaman kompresi 2 inchi (5cm) 1/3 AP, sekitar 2 inchi (5cm) 1/3 AP, sekitar 1,5 inchi (4 cm)
interupsi kompresi minimalisir interupsi hingga < 10 detik minimalisir interupsi hingga < 10 detik minimalisir interupsi hingga < 10 detik
jalan nafas head tilt-chin lift-jaw thrust head tilt-chin lift-jaw thrust head tilt-chin lift-jaw thrust
rasion kompresi:ventilasi 30:2 (1 atau 2 penyelamat) 30:2 (satu), 15:2 (2 penyelamat) 30:2 (satu), 15:2 (dua penyelamat)
jika penyelamat tidak terlatih kompresi saja kompresi saja kompresi saja
ventilasi jika mungkin 1 nafas setiap 6-8 detik, tanpa menyesuaikan dengan kompresi, 1 detik setiap nafas, hingga dada mengembang 1 nafas setiap 6-8 detik, tanpa menyesuaikan dengan kompresi, 1 detik setiap nafas, hingga dada mengembang 1 nafas setiap 6-8 detik, tanpa menyesuaikan dengan kompresi, 1 detik setiap nafas, hingga dada mengembang
defibrilasi gunakan AED sesegera mungkin, minimalisir interupsi kompresi, lanjutkan kompresi setelah setiap kejutan gunakan AED sesegera mungkin, minimalisir interupsi kompresi, lanjutkan kompresi setelah setiap kejutan gunakan AED sesegera mungkin, minimalisir interupsi kompresi, lanjutkan kompresi setelah setiap kejutan

Chain of survival

chain of survival

Kerangka kerja RJP: interaksi antara penyelamat dan korban

RJP secara tradisional menggabungkan antara kompresi dada dan nafas buatan dengan tujuan untuk meningkatkan sirkulasi dan oksigenasi. Karakteristik penyelamat dan korban dapat mempengaruhi penerapannya.

Penyelamat

Setiap orang dapat menjadi penyelamat bagi korban henti jantung. Kemampuan RJP dan penerapannya tergantung dari hasil pelatihan, pengalaman dan kepercayaan diri si penyelamat.

Kompresi dada adalah dasar RJP. Setiap penyelamat, tanpa memandang hasil pelatihan, harus melakukan kompresi dada pada semua korban henti jantung. Karena pentingnya, kompresi dada harus menjadi tindakan RJP yang pertama kali dilakukan terhadap semua korban tanpa memandang usianya. Penyelamat yang memiliki kemampuan sebaiknya juga melakukan ventilasi. Beberapa penyelamat yang sangat terlatih harus saling berkoordinasi dan melakukan kompresi dada serta nafas buatan secara tim.

building block cpr

Korban

Sebagian besar henti jantung dialami orang dewasa secara tiba-tiba setelah suatu sebab primer; karenanya sirkulasi yang dihasilkan dari kompresi dada menjadi yang terpenting. Sebaliknya, henti jantung pada anak-anak sebagian besar karena asfiksia yang memerlukan baik ventilasi dan kompresi untuk hasil yang optimal. Karenanya, bantuan nafas lebih penting bagi anak-anak dibandingkan orang dewasa.

Tindakan pertama: mengintegrasikan komponen penting dari RJP

Algoritma Bantuan Hidup Dasar (BHD/BLS Basic Life Support) dewasa adalah kerangka kerja konseptual bagi semua tingkatan penyelamat pada semua keadaan. Di dalamnya ditekankan hal-hal yang harus dilakukan semua penyelamat.

simplified adult bls Ketika menemui korban henti jantung dewasa yang bersifat mendadak, seorang penolong pertama kali harus mengenali henti jantung itu, dari unresponsiveness dan tidak adanya pernafasan normal. Setelah mengenali, penolong harus segera mengaktifkan sistem respons gawat darurat, mengambil defibrilator/AED, jika ada, dan memulai RJP dengan kompresi dada. Jika AED tidak tersedia, penolong harus memulai RJP langsung. Jika ada penolong lain, penolong pertama harus memerintahkan dia untuk mengaktifkan sistem respons gawat darurat dan mengambil AED/defibrilator sambil dia langsung memulai RJP.

Ketika AED/defibrilator datang, pasang pad, jika memungkinkan, tanpa memotong kompresi dada yang sedang dilakukan, dan nyalakan AED. AED akan menganalisis ritme dan menunjukkan apakah akan melakukan kejutan (defibrilasi) atau melanjutkan RJP.

Jika AED/defibrilator tidak tersedia, lanjutkan RJP tanpa interupsi hingga ditangani oleh penolong yang lebih berpengalaman/ahli.

Pengenalan dan aktivasi respons gawat darurat

Seorang korban henti jantung biasanya tidak bereaksi. Tidak bernafas atau bernafas tetapi tidak normal. Deteksi nadi saja biasanya tidak dapat diandalkan, walaupun dilakukan oleh penolong yang terlatih, dan membutuhkan waktu tambahan. Karenanya, penolong harus memulai RJP segera setelah mendapati bahwa korban tidak bereaksi dan tidak bernafas atau bernafas secara tidak normal (terengah-engah). Petunjuk “look, listen and feel for breathing” tidak lagi direkomendasikan. Petugas evakuasi harus membantu assessment dan memulai RJP.

Kompresi dada

Memulai dengan segera kompresi dada adalah aspek mendasar dalam resusitasi. RJP memperbaiki kesempatan korban untuk hidup dengan menyediakan sirkulasi bagi jantung dan otak. Penolong harus melakukan kompresi dada untuk semua korban henti jantung, tanpa memandang tingkat kemampuannya, karakteristik korban dan lingkungan sekitar. Penolong harus fokus pada memberikan RJP yang berkualitas baik:

  • menyediakan kompresi dada dalam kecepatan yang cukup (setidaknya 100/menit)
  • menyediakan kompresi dada pada kedalaman yang cukup (dewasa: setidaknya 2 inchi/5 cm, bayi dan anak-anak: setidaknya sepertiga diameter anteroposterior (AP) dada atau seitar 1,5 inchi/4 cm pada bayi dan sekitar 2 inchi/5 cm pada anak-anak)
  • menunggu dada mengembang sempurna setelah setiap kompresi
  • meminimalisir interupsi selama kompresi
  • menghindari ventilasi yang berlebihan.

Jika ada lebih dari satu penolong, mereka harus bergantian melakukan kompresi setiap 2 menit.

Jalan nafas (airway) dan ventilasi

Membuka jalan nafas (dengan head tilt, chin lift atau jaw thrust) yang diikuti nafas bantuan dapat meningkatkan oksigenasi dan ventilasi. Tetapi manuver ini dapat menjadi sulit dan mengakibatkan tertundanya kompresi dada, terutama pada penolong yang sendirian dan tidak terlatih. Karenanya, penolong yang sendirian dan tidak terlatih hanya melakukan kompresi dada saja tanpa ventilasi. Ventilasi harus diberikan jika korban cenderung disebabkan oleh asfiksia (contohnya pada bayi, anak-anak atau korban tenggelam).

Begitu alat bantu nafas tersedia, penolong harus memberikan ventilasi dalam kecepatan yang tetap 1 nafas setiap 6-8 detik (8-10 nafas/menit) dan kompresi dada tetap diberikan tanpa terputus.

Defibrilasi

Kesempatan korban untuk selamat menurun seiring jeda waktu antara henti jantung dan defibrilasi. Karenanya defibrilasi tetap menjadi dasar tatalaksana untuk fibrilasi ventrikel (VF ventricular fibrillation) dan pulseless ventricular tachycardia. Strategi bersama antara masyarakat dan rumah sakit harus ditujukan untuk mengurangi jeda waktu ini.

Satu penentu defibrilasi yang berhasil adalah efektifitas kompresi dada. Defiibrilasi lebih berhasil jika interupsi pada kompresi dada sedikit.

 

Referensi

Part 4: CPR Overview, 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s