Bantuan hidup dasar untuk dewasa (Adult basic life support)

Tulisan ini membahas sistem respons gawat darurat dan tahapan bantuan hidup dasar (BHD) untuk orang dewasa.

Sistem respons gawat darurat

Pengiriman pasien adalah komponen yang tidak terpisahkan dari sistem ini. Orang yang pertama kali menemukan pasien (bystander/lay responder) harus segera menghubungi nomer gawat darurat setempat untuk memulai respons setiap saat mereka menemukan korban yang tidak responsif. Instruksi yang diberikan lewat telepon dapat meningkatkan kualitas tindakan RJP yang dilakukan dan meningkatkan harapan hidup si korban.

Ketika petugas meminta penolong untuk memeriksa pernafasan, penolong kadang salah menginterpretasi nafas yang terengah-engah (agonal gasp) sebagai nafas yang normal. Untuk membantu penolong mengenali henti jantung, petugas harus menanyakan apakah korban tidak sadar dan kualitas pernafasannya, karenanya petugas harus paham akan jenis pernafasan yang tidak normal. Petugas harus waspada bahwa kejang (seizure) yang menyeluruh dan singkat kadang menjadi manifestasi pertama dari henti jantung. Petugas harus segera meminta untuk dilakukan RJP jika korban tidak responsif atau pernafasannya tidak normal karena sebagian besarnya adalah henti jantung, dan frekuensi cedera akibat kompresi dada pada kelompok yang bukan henti jantung sangat rendah.

Lebih mudah bagi petugas untuk langsung meminta dilakukan RJP dengan kompresi dada saja, sementara itu petugas juga harus menginstruksikan bantuan nafas jika korban cenderung diakibatkan oleh asfiksia (contohnya pada kasus tenggelam).

Tahapan BHD pada dewasa

simplified adult bls Algoritma di atas menunjukkan tahapan yang logis, ringkas dan mudah bagi setiap penolong. Tetapi, pada sistem profesional yang melibatkan tim beberapa tahapan dapat dilakukan secara simultan.

Pengenalan segera dan aktivasi sistem respons gawat darurat

Jika penolong seorang diri, setelah meyakinkan bahwa kondisi sekitar aman, harus memeriksa respons dengan menggoyang bahu dan memanggil korban. Penolong yang terlatih maupun tidak minimal juga harus memanggil sistem gawat darurat (contohnya 911). Jika korban tidak bernafas atau bernafas tetapi tersengal-sengal, penolong harus mengasumsikan adanya henti jantung. Saat menelpon, penolong harus menyiapkan jawaban terhadap pertanyaan petugas, yaitu lokasi kejadian, kejadian yang menimpanya, jumlah korban, kondisi korban dan jenis pertolongan yang telah diberikan. Jika penolong tidak pernah belajar atau lupa caranya RJP, mereka juga harus siap mengikuti arahan petugas. Penolong dapat melepas telepon jika memang sudah diperintahkan oleh petugas.

Cek nadi

Penelitian menunjukkan bahwa baik penolong yang awam maupun sudah terlatih sama-sama kesulitan dalam mencari nadi. Bahkan petugas kesehatan dimungkinkan terlalu lama memeriksa nadi.

Penolong harus tidak memeriksa nadi dan harus mengasumsikan adanya henti jantung jika seorang dewasa tiba-tiba kolaps atau ada korban yang tidak responsif dan tidak bernafas normal.

Petugas kesehatan harus memeriksa nadi dalam waktu kurang dari 10 detik, dan harus segera melakukan kompresi dada jika tidak menemukannya.

RJP secepatnya

Kompresi dada

Kompresi dada adalah tekanan yang bertenaga penuh dan berirama teratur pada sternum bagian bawah. Tekanan/kompresi ini mengakibatkan mengalirnya darah karena tekanan intratoraksik yang meningkat dan jantung yang ditekan. Darah akan mengalir dan oksigen akan dikirim ke otot jantung serta otak.

Kompresi dada yang efektif penting untuk tersedianya aliran darah ini. Karenanya semua pasien henti jantung harus dilakukan kompresi dada.

Kompresi dada yang efektif harus dilakukan dengan keras dan cepat. Kecepatannya sekurangnya 100 kompresi per menit dengan kedalaman setidaknya 2 inchi/5 cm. Penolong harus menunggu mengembangnya kembali dinding dada secara penuh (complete recoil) setelah setiap kompresi untuk memberi kesempatan pengisian jantung.

Penolong harus berusaha mengurangi frekuensi dan durasi interupsi saat kompresi dilakukan. Rasio kompresi-ventilasi yang direkomendasikan adalah 30:2.

Nafas bantuan

Di sini letak perubahan pada Guideline ini, yaitu memulai kompresi terlebih dahulu sebelum nafas buatan. Walaupun tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa memulai RJP dengan 30 kompresi lebih dahulu adalah lebih baik dibandingkan memulai dengan ventilasi 2 kali, sangat jelas bahwa darah akan mengalir dengan kompresi dada. Akibatnya, tertundanya atau terpotongnya kompresi dada harus dihindari selama resusitasi. Kompresi dada harus dimulai segera, sedangkan memposisikan kepala, mempersiapkan nafas bantuan (memasang mouth-to-mouth seal atau bag-mask) adalah tindakan yang membutuhkan waktu.

Sementara kompresi dada tetap dilakukan, penolong yang lebih berpengalaman dapat melakukan nafas bantuan baik dengan mulut ke mulut atau alat bantu sebagai berikut:

  • Setiap nafas diberikan selama 1 detik.
  • Berikan sejumlah volume tidal yang cukup (tampat dari mengembangnya dinding dada/visible chest rise).
  • Gunakan rasio kompresi dengan ventilasi sebanyak 30:2.

Defibrilasi dini dengan AED

AED (jika tersedia dan bisa digunakan) harus dipasang pada korban segera setelah penolong menghubungi petugas gawat darurat, dan kemudian melakukan RJP. Jika ada dua penolong, penolong pertama segera melakukan RJP sementara penolong kedua menghubungi petugas dan memasang AED.

Referensi

Part 5: Adult Basic Life Support 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care

3 thoughts on “Bantuan hidup dasar untuk dewasa (Adult basic life support)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s