Risiko dilakukannya RJP pada pasien yang tidak mengalami henti jantung

CPR training
Image via Wikipedia

 

Menjadi pertanyaan saya dan beberapa teman mengenai rekomendasi RJP (resusitasi jantung paru) yang baru dari AHA. Salah satunya adalah penilaian keadaan henti jantung yang cepat, sederhana dan sepertinya tidak logis.

Perubahan itu di antaranya: Algoritma BLS lebih disederhanakan. Protokol “look, listen and feel” (lihat, dengar dan raba) telah dihilangkan karena dianggap tidak konsisten dan menyita waktu. Lebih ditekankan untuk memanggil sistem respons gawat darurat dan memulai kompresi dada lebih dini.

Berikut beberapa respon dari teman ketika membacanya:

Vicky Laurentina, “Saya nggak bisa bayangkan. Liat orang yang dicurigai pingsan, tiba-tiba saya harus pencet dadanya.. Bagaimana kalau sebenarnya kesadarannya oke? Tidakkah lantas saya akan dituduh malpraktek?”

atau

Is…, “saya juga belum terlalu mengerti kenapa harus dibuat begitu bukankan resiko kesalahannya akan lebih besar?”

Jawabannya adalah translate saya di Bantuan hidup dasar untuk dewasa (Adult basic life support):

Petugas harus segera meminta untuk dilakukan RJP jika korban tidak responsif atau pernafasannya tidak normal karena sebagian besarnya adalah henti jantung, dan frekuensi cedera akibat kompresi dada pada kelompok yang bukan henti jantung sangat rendah.

Bahasa aslinya:

Dispatchers should recommend CPR for unresponsive victims who are not breathing
normally because most are in cardiac arrest and the frequency of serious injury from chest compressions in the nonarrest group is very low (Class I, LOE B).

Apa itu Class I, LOE B?
Adalah tingkatan pembuktian berdasarkan hasil penelitian.
Class I berarti: benefit >>> risk, keuntungan jauh lebih besar dari risiko, prosedur/tindakan harus dilakukan.
LOE (level of evidence) B berarti: populasi yang dievaluasi terbatas (ini dimaklumi karena penelitian terhadap orang henti jantung jelas terbatas), data diperoleh dari randomized trial tunggal/penelitian non randomized. Rekomendasi terhadap prosedur/tindakan adalah berguna/efektif.
Lebih jelasnya di sini: AHA Levels of Evidence

Lalu penelitian mana yang menjadi dasar pernyataan ini?
Yaitu penelitian yang dipublikasikan di sini:

White L, Rogers J, Bloomingdale M, Fahrenbruch C, Culley L, Subido C, Eisenberg M, Rea T. Dispatcher-assisted cardiopulmonary resuscitation: risks for patients not in cardiac arrest. Circulation.121:91–97.

 

Saya tidak bisa mendapatkan naskah lengkapnya, karena ternyata harus membayar. Tapi hanya dengan membaca abstraknya saja sepertinya kita sudah bisa menarik beberapa kesimpulan dan manfaat.

Metode penelitian dan hasilnya

Penelitian menggunakan metode cohort dari pasien dewasa yang tidak mengalami henti jantung di RS King County, Washington, antara tanggal 1 Juni 2004 hingga 31 Januari 2007. Penelitian memusatkan perhatian pada mereka yang menerima kompresi dada. Informasi dikumpulkan melalui laporan audio dan tertulis dari petugas, rekam medis, dan survey lewat telepon. Dari 1700 pasien yang mengalami RJP, 55% (938 dari 1700) adalah benar-benar henti jantung, 45% (762 dari 1700) tidak mengalami henti jantung, dan 18% (313 dari 1700) tidak mengalami henti jantung tapi menerima kompresi dada. 247 diantara yang tidak mengalami henti jantung tapi menerima kompresi dada dan dapat diikutkan dalam penelitian, 12 % (29 dari 247) mengalami ketidaknyamanan, dan 2% (6 dari 247) mengalami cedera yang mungkin disebabkan tindakan RJP. Hanya 2% (5 dari 247) yang mengalami fraktur, dan tidak ada pasien yang mengalami cedera organ dalam.

Kesimpulan

Dari penelitian ini, frekuensi cedera berat karena RJP yang dipandu petugas (via telepon) pada pasien yang tidak mengalami henti jantung adalah rendah. Jika dikombinasikan dengan keuntungan yang didapat, hasil ini mendukung program yang tengah berjalan.

Dari saya

Tingkat errornya memang sangat tinggi. Hampir setengahnya yang dilakukan RJP ternyata bukan henti jantung. Tapi dari semua yang bisa dikatakan “salah tindakan” itu 15% saja yang memberikan hasil negatif (tidak nyaman 12%, cedera ringan 2%, fraktur 2%).

Mungkin sebanyak itu risiko kita sebagai petugas kesehatan akan dituntut secara hukum di kemudian hari. Saya tidak tahu apakah organisasi profesi di negara kita tercinta Indonesia sudah menerapkan guideline ini atau belum. Alangkah baiknya jika sudah, karena bisa meminimalisir risiko secara hukum.

Kedua, penelitian di atas menggunakan suatu sistem yang dipandu oleh petugas via telepon (dispatcher), sedangkan sistem 911 di negara kita juga belum sempurna. Saya masih membayangkan bagaimana caranya menghubungi petugas, petugas yang mana, dan banyak pertanyaan lainnya.

Overall, tidak ada manusia yang sempurna. Lebih khusus, tidak ada petugas medis yang selalu benar dalam tindakannya. Error akan selalu ada sekecil apapun. Itulah risiko kita sebagai petugas kesehatan, apalagi di negara macam Indonesia yang hukumnya bagaikan hutan rimba. Tanyakan kembali panggilan jiwa Anda ketika dahulu memilih profesi ini jika Anda takut melakukan suatu tindakan medis. Selalulah belajar untuk menjadi yang lebih baik.

Toendjoekkan bidjimoe!!😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s