Bell’s palsy, diagnosis dan penatalaksanaan

Bell’s palsy adalah kelemahan saraf perifer akut dan idiopatik pada nervus facialis yang mempersarafi semua otot mimik wajah. Nervus facialis juga mengandung jaras parasimpatis ke glandula lacrimalis dan salivarius, serta beberapa jaras sensorik yang mempersarafi sensasi kecap di dua pertiga anterior lidah. Bell’s palsy berasal dari nama penemunya, Sir Charles Bell (1774-1842). Insidensi tahunan Bell’s palsy adalah 15-30 per 100.000 orang, mengenai baik pria maupun wanita, tanpa predileksi sisi wajah mana yang terkena, dan mengenai hampir semua umur dengan usia puncak pada 40 tahun. Terjadi lebih sering pada pasien dengan diabetes dan wanita hamil. Pasien yang pernah mengalami Bell’s palsy, risiko berulangnya penyakit adalah 8%.

Gambaran klinis

Pasien dengan Bell’s palsy biasanya mengeluhkan kelemahan atau paralisis semua otot wajah di satu sisi. Kerutan wajah dan lesung pipi menghilang dan sudut mulut jatuh. Kelopak mata tidak dapat menutup, jika diusahakan untuk menutup, mata berputar ke depan (Bell’s phenomenon). Iritasi mata kadang terjadi karena lakrimasi berkurang, tetapi mata akan tampak berair karena kendali kelopak mata tidak ada, sehingga air mata akan terus mengalir. Makanan dan air liur akan berkumpul di sisi mulut yang terkena. Pasien terkadang mengeluhkan rasa kebas, tetapi sensasi facial tidak terpengaruh.

Pasien dengan Bell’s palsy biasanya berkembang dari onset gejala hingga kelemahan maksimal dalam tiga hari hingga satu minggu. Jika onset dan perkembangan penyakit berlangsung lebih dari dua minggu, diagnosis harus dipertimbangkan lagi. Tanpa diobati, 85% pasien akan membaik secara parsial dalam tiga minggu.

Etiologi dan diagnosis banding

Bell’s palsy diyakini disebabkan oleh inflamasi nervus facialis pada ganglion geniculatum, yang mengakibatkan penekanan dan kemungkinan iskemia serta demielinisasi. Ganglion ini terletak di canalis facialis antara segmen labirin dan timpani, yang kemudian saraf akan berjalan masuk ke foramen stylomastoideum. Selama ini, Bell’s palsy dianggap sebagai idiopatik, dan penyebab inflamasi ini masih tidak diketahui. Tetapi, penelitian mengarah ke infeksi herpes simplex virus tipe 1 (HSV-1) sebagai kemungkinan penyebabnya karena ditemukan adanya kenaikan titer pada pasien. Penelitian ini masih belum dapat mengisolasi DNA virus pada biopsi spesimen, sehingga peran HSV-1 sebagai penyebab masih dipertanyakan.

Beberapa kondisi dapat menyerupai Bell’s palsy. Lesi struktur telinga dan kelenjar parotis (kolesteatoma, tumor kelenjar ludah) dapat menekan saraf. Guillain-Barre syndrome, Lyme disease, otitis media, Ramsay Hunt syndrome, sarkoidosis dan beberapa vaksin influensa juga dapat menyebabkan kelemahan saraf perifer.  Tetapi, keadaan-keadaan ini biasanya disertai gambaran lain yang membedakannya dari Bell’s palsy.

image

 

Pasien dengan Lyme disease biasanya memiliki riwayat infeksi akibat kutu, rash pada kulit dan nyeri sendi. Kelemahan saraf akibat otitis media biasanya berlangsung bertahap disertai nyeri telinga dan demam. Ramsay Hunt syndrome didahului dengan nyeri dan erupsi vesikuler di liang telinga dan faring. Polineuropati (Guillain-Barre syndrome, sarkoidosis) biasanya mengenai kedua sisi wajah. Tumor wajah memiliki onset gejala yang lebih lama (beberapa minggu hingga bulan).

Lesi saraf pusat (multiple sclerosis, stroke, tumor) juga dapat menyebabkan kelemahan saraf wajah. Pada gambar 2 dapat dilihat, lesi supranuklear (saraf pusat) pada saraf facialis tidak mengenai dahi pada sisi yang terkena.

image

Penatalaksanaan

Kortikosteroid. Prednison, dimulai dengan 60mg/hari, diturunkan dosisnya (tappering) dalam 10 hari.

Antivirus. Asiklovir 400mg lima kali sehari selama 7 hari atau valasiklovir 1 g/hari selama 7 hari. Tetapi, terapi ini tidak berguna jika diberikan setelah onset penyakit lebih dari 4 hari.

Sumber di sini

4 thoughts on “Bell’s palsy, diagnosis dan penatalaksanaan”

  1. Wah saya sedang kena bell’s palsy, mulai tanggal 15 November lalu, Selasa, diawali dengan lidah kebas saat makan siang pada sekitar jam 14.00. Kemudian saya tertidur dan bangun pada pukul 16.00. Merasakan sensasi mulut yang tidak terkendali ketika sikat gigi. Dan kemudian melihat senyum yang tidak simetris di cermin. Saya segera search Google dan menduga Bell’s Palsy sebagai kemungkinan terkuat. Diagnosa jarak jauh adik ipar yang dokter (kandungan hehe) juga demikian, sebab tidak ada anggota badan lain yang terpengaruh.

    Saya (tinggal di Bogor) menemui neurolog pada jam 19.00. mendapat 6 jenis obat, diantaranya methyl prednisolon (4mg) dan kombinasi vitamin B dosis tinggi. Sayang neuro-nya irit info. Dengan bantuan adik ipar, saya memutuskan tidak mengkonsumsi obat yang lain, pain killer dan temannya untuk menetralisir kemungkinan pengaruhnya ke lambung. Resep hanya untuk 3 hari, sementara sempat terucap bahwa saya akan mulai memerlukan fisioterapi pada hari ke 5.

    Benci dengan sikap dokter yang sok bisu dan curiga akan diharuskan ketemu tiap 3 atau 2 hari sekali, sehari kemudian saya langsung kunjungi neurolog lain. Satu ini agak ramah, langsung menyebutkan Bell’s Palsy setelah melakukan anamnesa dan merencanakan fisioterapi pada hari ke 7. Saya diperkirakan akan memerlukan waktu 2 bulan. Prognosis yang lebih jelas. Ketika saya tanyakan tentang antivirus, jawabannya tidak perlu. Saya mendapat dua resep, tetap kortikosteroid (sekarang jadi 8 m, 3 X sehari) dan vitamin B dosis tinggi.

    Nah sekarang saya ingin info jenis fisioterapinya nih, bisa bantu gan?

    1. Semoga lekas sembuh ya gan.

      Kalo untuk modalitas fisioterapi yang dibutuhkan sepertinya perlu ada artikel tersendiri.

      Secara umum, ada 4 modalitas yang biasa digunakan:
      1. Stimulasi elektrik. Ini untuk menstimulasi saraf motorik (penggerak) wajah yang melemah atau lumpuh.
      2. MWD. Microwave diathermi. Seperti namanya, ini menggunakan gelombang mikro untuk menghasilkan panas. Tujuannya, memperlancar peredaran darah, melemaskan otot yang kontraktur (kaku) dll.
      3. Excersise. Ini latihan otot wajah, seperti latihan senyum, bersiul, mencucu, mengerutkan dahi dll. Dilakukan di depan cermin untuk mempertahankan simetrisitas wajah.
      4. Massage. Teknik pemijatan.

      Ini dari sisi otot wajahnya. Bisa juga ada tambahan untuk mata, kelenjar airmata, dan lidah jika ikut terdampak.

      Semua modalitas ini menjadi domain ahli fisioterapi. Dalam batas tertentu mungkin agan juga akan dikonsulkan dulu kepada dokter ahli kedokteran fisik dan rehabilitasi, tapi tidak selalu.

      Pada pertemuan pertama mungkin hanya sesi perkenalan dan introduksi. Bisa jadi, tergantung derajat penyakitnya, tidak semua modalitas ini akan diterapkan.

      Pada dasarnya, fisioterapi bertujuan untuk mempertahankan tonus otot agar tidak kaku, saat nanti sarafnya sudah berfungsi dengan baik lagi.

      Segitu dulu gan, semoga bisa membantu.
      Sent from my BlackBerry® via Smart 1x / EVDO Network. Smart.Hebat.Hemat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s