Memilih popok (diaper)

Different kinds of outer diapers. Baby diapers.
Image via Wikipedia

Memilih popok, kain (cloth) atau disposable, apapun pilihan kita, akan mengakibatkan berbagai dampak bagi lingkungan, kesehatan dan ekonomi kita. Saat ini, tidak ada popok yang lebih baik dari yang lain. Beberapa pemahaman dasar dari permasalahan ini dapat membantu kita membuat pilihan yang bertanggung jawab.

Diperkenalkan pada tahun 1961, popok disposable saat ini mendominasi pasar. Terutama pada keluarga dimana ayah dan ibu bekerja, sehingga waktu untuk memelihara cloth diaper terbatas. Seiring dengan kondisi ini, meningkat pula limbah pembuangannya. Rata-rata seorang anak menggunakan 5.000 popok selama 30 bulan sebelum toilet training, mengakibatkan total 2,7 juta ton popok yang harus dibuang setiap tahunnya.

Lingkungan

 

Disposable Diaper

Dengan kondisi alam kita saat ini, solusi pembuangan sampah padat menjadi masalah kritis. Apalagi, proses penguraian disposable diaper amat lama. Disposable diapers dibuat dari kayu (selulosa), bahan kimia (gel penyerap) dan bahan minyak (lapisan kedap air dari polipropilen). Walaupun kayu yang digunakan untuk membuatnya berasal dari hutan produksi dan bukan hutan alami, dibutuhkan setidaknya 1,8 juta ton kayu untuk membuatnya setiap tahun.

Menggunakan disposable diaper membutuhkan bahan baku yang lebih banyak dan menghasilkan sampah padat yang lebih banyak dibandingkan cloth diaper. Masalah lain, mikroorganisme yang terkandung di dalam popok berpotensi menimbulkan masalh infeksi pada daerah sekita tempat pembuangan, apalagi bila terletak di dekat sumber air.

Ada jenis disposable diaper yang mudah diurai (biodegradable). Tetapi masalah utama yang disebutkan di atas, sampai saat ini masih belum dapat diselesaikan dengan keluarnya produk ini.

Cloth Diapers

Walaupun disposable diapers menimbulkan masalah lingkungan dari sisi sampah padat yang dihasilkannya, cloth diaper bukan tanpa masalah. Masalah pada cloth diaper timbul dari polusi pada air dan udara. Cloth diaper yang dapat digunakan berulang kali memang dapat mengurangi masalah sampah padat, tetapi mencucinya membutuhkan air, energi untuk memanaskan air dan setrika, bahan kimia untuk mencucinya juga memberikan kontribusi pada polusi air dan kimia.

Penelitian di tahun 1990 menunjukkan bahwa cloth diaper menggunakan energi dua kali lipat dan air empat kali lipat daripada yang dibutuhkan untuk disposable, dan menimbulkan masalah air dan udara yang lebih besar. Jika disposable diaper membutuhkan bahan baku yang lebih banyak pada proses pembuatannya, cloth diaper menggunakan bahan baku yang lebih banyak lagi untuk pemeliharaan dan perawatannya.

Kesehatan

Masalah kesehatan yang paling berhubungan dengan pemakaian popok adalah diaper rash karena kelembaban kulit yang meningkat. Disposable diaper mencoba mengatasinya dengan menyerapnya memakai bahan kimia dan membentuk gel, sedangkan pemakai cloth diaper disarankan mengganti popok lebih sering.

Cara yang paling ampuh mengatasi hal ini jelas adalah memperhatikan kebersihan kulit bayi serta menggantinya secara rutin. Sebagian besar alasan tempat penitipan bayi menggunakan disposable diaper adalah alasan kenyamanan dan bukan alasan higenis. Penelitian menunjukkan frekuensi kejadian diare yang lebih sering pada anak yang dirawat di tempat penitipan daripada mereka yang dirawat di rumah.

Ekonomi

Pola pengaturan keuangan dan waktu adalah yang paling berhubungan dengan keputusan memilih jenis popok. Disposable membutuhkan biaya sekitar Rp 400.000,- per bulan, jika per harinya diperkirakan ganti popok 5-7 kali. Jumlah ini bervariasi tergantung usia anak. Bayi akan membutuhkan lebih banyak pergantian popok.

Investasi awal untuk cloth diaper adalah sekitar Rp 700.000,- termasuk plastic pants dan diaper pail. Biaya bulanannya untuk mencuci bervariasi tergantung banyak hal, apakah dicuci sendiri atau dicuci di laundry. Orang tua akan cenderung menggunakan cloth diaper lebih sering dibandingkan disposable (5,4 kali dibanding 7 kali pada satu penelitian), terutama di malam hari. Menggunkana cloth diaper cenderung lebih ringan biayanya jika dibandingkan disposable jika dilihat dari sisi pengeluaran awal, tetapi biaya keseluruhan untuk pemeliharaannya mengurangi selisih harga itu pada akhirnya.

Waktu amat berharga pada orang tua yang keduanya bekerja. Mencuci popok akan menghabiskan banyak waktu yang berharga itu. Begitu pula dengan frekuensi menggantinya yang lebih sering. Laundry dapat menjadi pilihan, tetapi tidak setiap daerah tersedia laundry yang cukup.

Alternatif

Usaha mengurangi sampah padat memang sedang digalakkan. Beberapa proyek mencoba melakukan daur ulang. Tetapi usaha ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Usaha lain di antaranya memisahkan komponen yang dapat diurai dengan tidak diurai, dan menggunakan biodegradable diaper.

Keputusan Pribadi

 

Popok mana yang akan dipilih, tentunya akan tetap menjadi pilihan pribadi masing-masing. Tidak ada bukti penelitian yang menunjukkan satu cara yang lebih baik dari yang lain. Yang harus diperhatikan justru adalah kebutuhan dan keyakinan pribadi masing-masing, baik si anak maupun orang tua. Lingkungan tempat tinggal juga dapat menjadi pertimbangan, seperti pasokan air, tingkat polusi yang ada baik air, udara maupun sampah padat.

Mengkombinasikan keduanya adalah alternatif yang juga baik. Menggunakan cloth saat di rumah, dan disposable saat bepergian.

Orang tua berperan penting dalam menentukan masa depan anak. Keputusan yang dibuat, termasuk di antaranya pertimbangan terhadap kondisi lingkungan, kesehatan dan keuangan akan mempengaruhi mereka di masa depan. Semoga tulisan ini dapat membantu.

Sumber di sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s