Pilek terus? Mungkin Anda terkena rinosinusitis kronis

Maxilar bone with left sided sinusitis (left m...
Image via Wikipedia

Sinusitis adalah masalah kesehatan yang cukup berdapak luas sehingga mengakibatkan kerugian finansial secara umum. Selain itu, meningkatnya resistensi kuman terhadap antibiotik juga menjadi masalah utama karena penggunaan yang tidak semestinya terhadap penyakit ini.

Definisi klinis

Menurut The European Position Paper on Nasal Polyps 2007, terdapat perbedaan pengertian antara dokter THT dan dokter lain tentang definisi rinosinusitis. Berikut adalah definisi non-THT:

Rinosinusitis akut (RNA Acute rhinosinusitis)

  • Onset tiba-tiba dua atau lebih gejala, dapat berupa sumbatan hidung atau cairan hidung yang berlebihan.
  • Nyeri pada wajah atau berkurangnya penciuman.

Durasi harus kurang dari 12 minggu dan dapat saja terdapat interval tanpa gejala. Pertanyaan tentang gejala alergi seperti bersin, hidung berair, hidung gatal dan mata berair harus juga ditanyakan.

Rinosinusitis akut viral (common cold)

Durasi gejalanya kurang dari 10 hari. Angka kejadiannya sangat tinggi, orang dewasa dapat mengalaminya dua hingga lima kali setahun, pada anak-anak bisa lebih sering lagi hingga sepuluh kali setahunnya. Virus penyebab terbanyak adalah Rhinovirus (24%) dan influenzae (11%). Hanya sekitar 0,5-2% saja yang disertai infeksi bakteri.

Rinosinusitis akut non-viral

Gejalanya meningkat setelah 5 hari atau menetap hingga antara 10 hari sampai 12 minggu.

Rinosinusitis kronis (CRS chronic rhinosinusitis) dengan atau tanpa polip nasal

  • Onset tiba-tiba dua atau lebih gejala, dapat berupa sumbatan hidung atau cairan hidung yang berlebihan.
  • Nyeri pada wajah atau berkurangnya penciuman.

Durasi lebih dari 12 minggu tanpa berkurangnya gejala.

Gangguan fungsi pertahanan tubuh

Penelitian saat ini berpusat pada konsep gangguan fungsi pertahanan tubuh sebagai penyebabnya.

Gangguan pertahanan fisik

Rusaknya komponen mekanis pertahanan (barrier) fisik berupa epitel mengakibatkan protein asing dapat masuk dan merangsang respon imun. Pada CRS, berkurangnya defisiensi protease endogen seperti LEKT1 mengakibatkan barrier lebih rentan terhadap serangan protease dari luar maupun dalam.

Gangguan imun alamiah

Sistem respon manusia dibentuk dari dua komponen, alami (innate) dan didapat (acquired). Mukosa hidung secara alami mengandung banyak molekul antimikroba, salah satunya S100 dan IL-22. Pada sebuah penelitian, kedua molekul ini berkurang pada pasien CRS.

Bakteri

Peran bakteri secara umum pada CRS masih belum jelas. Bakteri anaerob dapat saja muncul pada infeksi yang menyertai infeksi pada gigi, tapi mungkin bukan penyebabnya. Mikroorganisme yang sering ditemui pada CRS adalah S. aureus (36%), Staphylococcus tanpa koagulase (20%), dan S. pneumoniae (17%).

Pengobatan

Diagnosis yang tepat harus ditegakkan terlebih dahulu. Terapi terkini pada CRS meliputi bedah sinus endoskopik, kortikosteroid topikal dan sistemik, antagonis lekotrien, antihistamin dan antimikroba. Walaupun terapi ini dapat membantu sebagian besar pasien, sejumlah pasien akan tetap mengalami gangguan dan tidak sembuh secara sempurna, sehingga pemahaman dan penelitian terhadap penyakit ini perlu ditingkatkan kembali.

Sumber

RL Friedman, M Hockman. Chronic rhinosinusitis. South Afr J Epidemiol Infect 2010;25(1):7-10

One thought on “Pilek terus? Mungkin Anda terkena rinosinusitis kronis”

  1. Ping-balik: lintas-oto.info

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s