JUAL BELI

dr. Yusuf Bakhtiar

Pengertian

Jual Beli adalah : Pertukaran harta atas dasar saling rela atau memindahkan milik dengan ganti yang dapat dibenarkan. Secara umum hukumnya Boleh/ Halal. Landasan hukum akan hal ini ialah :

  1. “Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Q. S. Al Baqarah (2) :275)
  2. Dari Rafi’ bin Khudaij, bahwa dikatakan, “Wahai Rasulullah, pekerjaan apakah yang paling baik?” Rasulullah SAW menjawab, “Pekerjaan orang dengan tangannya sendiri dan semua jual beli yang mabrur.” (H. R. Ahmad, Al Bazzar dan Ath Thabrani).
  3. Secara Ijma : jual beli sudah berlaku dan dibenarkan sejak zaman Rasulullah SAW sampai hari ini.
  4. Sedangkan dalil aqlinya adalah : kebijaksanaan menuntut keberadaan jual beli. Karena manusia saling membutuhkan dan umumnya tidak ada jalan tukar menukar kecuali melalui ganti. Dengan demikian diperbolehkannya jual beli mengandung tercapainya tujuan dan tergapainya hal yang dibutuhkan.

Transaksi jual beli dinyatakan terjadi apabila terpenuhi tiga syarat :

  1. Adanya dua pihak yang melakukan transaksi jual beli (penjual dan pembeli).
  2. Adanya sesuatu/ barang yang dipindahtangankan dari penjual kepada pembeli dan gantinya (harga/ uang) dari pembeli kepada penjual.
  3. Adanya sighat ijab qabul.

Syarat yang harus dipenuhi oleh penjual dan pembeli :

  1. Berakal sehat dan dapat membedakan/memilih, sehingga tidak terjadi penipuan. Hal ini berdasarkan hadits : Rasulullah SAW bersabda, “Hukum tidak berlaku dari tiga kelompok manusia : Anak kecil sampai ia baligh, orang tidur sampai ia terjaga, dan orang gila sampai ia sadar.” (H.R.Abu Dawud dan Ibnu Majah)
  2. Dengan kehendaknya sendiri, keduanya saling rela, bukan karena dipaksa. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT, “Kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu.” (Q.S. An Nisa‘ (4) : 29)
  3. Dewasa (baligh). Hal ini berdasarkan hadits no 1 di atas.

Syarat benda dan uang diperjualbelikan :

  1. Bersih barangnya, hal ini berdasarkan hadits : Jabir RA mendengar Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan memperjualbelikan khamer, bangkai, babi dan patung-patung.” Seorang berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang gemuk-gemuk (lemak) yang diambil dari bangkai, karena gemuk-gemuk itu digunakan untuk mengecat kapal-kapal, meminyaki kulit dan dijadikan minyak lampu?” Nabi SAW berkata, ” Dia itu haram.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda lagi, “Mudah-mudahan Allah membinasakan orang-orang Yahudi, karena manakala Allah mengharamkan gemuk-gemuk bangkai, mereka mencairkannya kemudian mereka menjualnya dan memakan harganya.” (H. S. R. Al Jamaah).
  2. Harus bermanfaat. Hal ini berdasarkan hadits : Abu Mas’ud Uqbah bin Amir menerangkan, ” Rasullah SAW telah melarang kita memanfaatkan harga anjing, upah yang dihasilkan wanita pelacur, dan upah yang diberikan kepada peramal (tukang tenung).” (H.S.R. Al Jamaah)

    Jabir RA menerangkan, “Bahwasannya Rasulullah SAW mengharamkan harga kucing dan anjing.” (H.S.R. Ahmad, Muslim dan Abu Dawud)

  3. Milik orang yang melakukan akad atau diberi ijin oleh pemiliknya. Hal ini berdasarkan hadits : Rasullah SAW bersabda, “Tidaklah suatu jual beli kecuali terhadap barang yang menjadi milknya milknya sendiri.” (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi)
  4. Keadaan barang yang diperjual belikan dapat diserah terimakan. Dengan ketentuan ini, tidak sah menjual barang yang sedang menjadi agunan, sengketa atau menjual ikan yang masih di tengah laut. Karena hal ini mengandung tipu daya (Gharar). Hal ini berdasarkan hadits : Dari Abu Hurairah ia berkata, “Bahwasannya Nabi SAW telah melarang memperjualbelikan barang yang mengandung tipu daya (Gharar).” (H.S.R.Muslim)
  5. Sehingga kalau suatu barang belum berada di tangan, maka menjualnya juga tidak boleh. Hal ini berdasar hadits : Ibnu Umar berkata, “Para sahabat memperjualbelikan makanan di ujung pasar tanpa di sukat (ditimbang), Rasulullah SAW melarang mereka menjualnya sebelum diangkut ketempat mereka masing –masing.” (H.S.R. Al Jamaah)

Syarat yang dipenuhi pada sighat ijab qabul

  1. Kedua pihak berhubungan di satu tempat tanpa ada pemisah yang merusak.
  2. Ada kesepakatan ijab qabul pada barang dan harga barang. Jika kedua pihak tidak sepakat, maka akad jual beli tidak sah. Misalnya : Penjual mengatakan, “Aku jual baju ini seharga Rp 20.000,00.” Dan si pembeli mengatakan, “Saya terima harga tersebut dengan Rp 15.000,00.” Maka jual beli ini tidak sah, karena ijab dan qabul berbeda.
  3. Ijab qabul tidak ada kemestian menggunakan kata – kata khusus, yang diperlukan adalah saling rela dalam bentuk mengambil dan memberi atau cara lain yang dapat menunjukkan keridhaan berdasarkan makna pemilikan atau mempermilikkan, seperti ucapan penjual : “Aku jual, Aku berikan, ini menjadi milikmu, atau berikan harganya.” Dan ucapan pembeli : “Aku beli, Aku ambil, Aku rela, atau aku ambil harganya.”
  4. Ungkapan / perkataan harus menunjukkan masa lalu atau masa sekarang. Bila masa yang akan dating hanya merupakan janji untuk berakad, sehingga akad tidak sah.
  5. Ijab qabul untuk barang – barang kecil cukup dengan saling memberi sesuai adat kebiasaan yang berlaku.

Beberapa Hal Seputar Jual Beli

  1. Menjual barang yang telah dijual kepada orang lain, kemudian dijual lagi pada pembeli yang lain. Dalam hal ini maka jual belinya batal. Karena penjual menjual barang yang sudah bukan miliknya lagi, melainkan milik pembeli pertama. Nabi SAW bersabda, “Wanita mana saja yang dinikahi dua pria, maka yang sah adalah yang pertama. Dan siapa saja yang menjual barang kepada dua orang, maka yang sah adalah yang pertama.” (H. R. Ahmad)
  2. Menjual barang (atas) barang yang dijual orang lain yang telah dibeli oleh pembeli. Dalam hal ini seperti contoh : Pembeli membeli suatu barang dari pihak penjual dengan syarat khiyar. Tiba-tiba datang penjual lain yang menawarkan barang serupa dengan saran agar pembeli membatalkan jual beli yang pertama dan membeli barangnya dengan harga yang lebih murah. Maka yang demikian ini hukumnya haram. Mengingat sabda Rasulullah SAW, “Janganlah seorang kamu menjual barang yang telah dijual saudaranya.” (H. R. Ahmad dan Nasa-i).
  3. Menjadi perantara antara penjual dan pembeli dalam proses jual beli (Percaloan/Broker). Secara umum hukumnya boleh. Ibnu Abbas RA menyatakan, “Tidak mengapa bila seseorang berkata,’Juallah baju ini dan ambillah selebihnya (kelebihan dari harga jual’.” (Atsar Riwayat Bukhari). Imam Bukhari juga menyatakan bahwa Ibnu Sirin, Atha’, Ibrahim, dan Hasan Basri berpendapat bahwa bea jasa (yang diberikan kepada) makelar itu tidak apa-apa.
  4. Jual beli dengan paksa tanpa hak maka hukumnya batal. Allah berfirman, “Kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu.” (Q. S. An Nisa (4) : 29). Perkecualian adalah jual beli paksa terhadap harta sendiri dengan cara yang hak, maka hal ini sah. Seperti seseorang dipaksa menjual rumahnya demi perluasan jalan atau pembangunan masjid atau pekuburan. Atau seorang dipaksa menjual barang miliknya lantaran berhutang atau memberi nafkah istri atau kedua orang tuanya.
  5. Jual beli mudhthar (terpaksa). Seperti seorang yang menjual miliknya dengan harga dibawah standar harga barang tersebut, barangkali karena terdesak untuk segera mendapatkan uang. Meski sah, namun jual beli ini makruh. Mengingat firman Allah diatas.
  6. Menyempurnakan takaran dan timbangan.

    Hal ini hukumnya wajib. Allah SWT berfirman, “Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.” (Q. S. Al An’am (6) : 152).

  7. Melebihkan timbangan dan takaran. Hal demikian ini hukumnya sunnah. Dari Suwaid bin Qais, ia berkata, “Aku dan Makhrafah Al’Abada pernah mengimpor pakaian dari tanah Hajar, kemudian kami bawa ke Makkah. Lantas Rasulullah SAW datang menghampiri kami sambil berjalan. Kami tawarkan beliau celana dan beliau membelinya. Dan pada waktu itu ada seorang yang sedang menimbang bayaran, Rasullah SAW kemudian bersabda,’Timbanglah dan lebihkan’.” (H .R. Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah).
  8. Bermurah hati dan mempermudah dalam jual beli. Hal ini sunnah hukumnya. Dari Jabir bin Abdullah RA bahwa Rasullah SAW bersabda, “Allah mengasihi seorang hamba yang bermurah hati/ memberi kemudahan saat menjual, saat membeli dan saat menuntut/ menagih hak/ pembayaran.” (H .R. Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu Majah).
  9. Pedagang dan pembeli hendaklah bertindak jujur, tidak berdusta atau bersumpah palsu. Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam, sesungguhnya Rasullah SAW bersabda, “Penjual dan pembeli memiliki hak memilih (melangsungkan atau membatalkan) jual beli, selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya berlaku jujur dan jelas, maka transaksi jual beli keduanya diberkahi. Jika keduanya saling menutupi dan berbohong, barangkali jika keduanya bisa meraih keuntungan, namun menghapus keberkahan jual beli keduanya. Sumpah palsu dapat membuat laku barang dagangan namun menghapus (keberkahan ) usaha.” (H. R. Bukhari Muslim).
  10. Pedagang dianjurkan bersedekah untuk menghapus apa yang mungkin mereka lakukan, seperti menipu, menyembunyikan cacat barang, dan berperilaku buruk. Rasulullah SAW bersabda, “Wahai sekalian para pedagang, sesungguhnya jual beli ini diliputi oleh kelalaian dan sumpah, maka campurlah ia dengan bersedekah.” (H. R. Ahmad, Abu Dawud dan Nasa-i). Dalam redaksi lain, “Wahai sekalian para pedagang, sesungguhnya syetan dan dosa menghadiri proses jual beli, maka campurlah jual beli kalian dengan bersedekah.” (H. R. Tirmidzi).
  11. Jual beli hashah. Yakni melakukan jual beli tanah yang tidak jelas luasnya. Mereka melempar hashah (batu kecil), maka tempat jatuh batu itu jadi batas yang dijual. Hukumnya haram. Abu Hurairah RA berkata, “Rasulullah SAW melarang kita menjual sesuatu benda yang ditimpa batu (hashah) dan penjualan yang mengandung unsure penipuan terhadap pembeli.” (H. R. Al Jamaah).
  12. Jual beli dharbatul ghawwash. Yakni barang yang ditemukan saat menyelam itu yang diperjualbelikan. Kadang pembeli memberi harga tinggi padahal tidak mendapat apa-apa. Kadang penjual menyerahkan barang yang ditemikan walaupun jumlah barang tersebut beberapa kali lipat dari haraga yang diterima. Hal semacam ini hukumnya haram. Ibnu Mas’ud berkata, bahwasanya Rasullah SAW bersabda, “Janganlah membeli ikan yang masih berada didalam air, karena mungkin saja terjadi penipuan.” (H. R. Ahmad).
  13. Jual beli Nitaj. Yaitu membeli hasil binatang ternak sebelum memberikan hasil. Seperti menjual susu yang masih ada dalam bah susunya. Atau serupa ini menjual bulu domba ditubuh domba hidup sebelum dipotong. Hal ini haram hukumnya. Ibnu Abbas RA berkata, “Rasulullah SAW melarang orang menjual buah-buahan sebelum dapat dimakan, menjual bulu hewan (wool) yang masih melekat ditubuhnya, menjual susu yang masih berada di bah susunya, atau menjual minyak samin yang masih berupa susu.” (H. R. Daraquthni).
  14. Jual Beli Mulamasah dan Munabadzah. Mulamasah yakni jual beli dimana pembeli hanya memegang kain dalam keadaan terlipat atau gelap, kemudian terjadi transaksi tanpa boleh meneliti atau memeriksanya. Munabadzah yaitu jual beli dengan cara pemjual melemparkan kain kepada pembeli, kemudian pembeli melemparkan kain itu kembali kepada penjual, dan terjadilah transaksi tanpa boleh melihat. Semua ini batal hukumnya. Abu Sa’id Al Khudri RA berkata,” Rasullah SAW melarang jual beli barang secara mulamasah dan munabadzah.” (H. R. Bukhari Muslim).
  15. Bai’ atani fi bai’ah = dua penjualan atas satu produk dan shaf qatani fi ahaqaf = dua akad atas satu transaksi. Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. pernah mencegah / melarang (orang – orang) dari dua penjualan atau transaksi dalam satu produk.” (H.H.R. Abu Dawud, Malik, Ahmad, Tirmidzi, Nasa-i dan Ibnu Hibban). Contoh yang dimaksud dua penjualan atas satu produk : Imam Turmudy, al Khathathabi : “Saya menjual baju ini kepadamu dengan harga sepuluh ribu kontan DAN dengan dua puluh ribu kredit”. Kemudian berpisahlah si penjual dan pembeli tanpa ditentukan dengan kontan kredit. Maka transaksi ini menjadi fasid / tidak sah karena ada unsur jahalah (kebodohan). Namun, bila ditentukan salah satunya, kontan atau kredit sebelum berpisah, inilah bai’ bit taqsith yang banyak dilakukan orang sekarang. Imam Syafi’i, al Khaththabi “Saya menjual rumahku kepadamu dengan harga sekian dengan syarat kamu harus menjual anakmu dengan harga sekian. Maka apabila anakmu dijual kepada saya maka pasti rumahku dijual kepadamu” Saya menjual sesuatu kepada anda 1000 real secara kredit, tetapi pihak penjual membelinya kembali dengan harga 900 dari pembeli secara kontan.
  16. Bai’ul ‘ inah

    Dari Abdullah bin Umar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ” Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah dan mengambil ekor sapi, merasa lega dengan bertanam, dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menurunkan kerendahan bagi kalian. Dia sekali-kali tidak akan melepaskannya, kecuali jika kalian kembali kepada agama kalian.” (H.S.R. Ahmad, Abu Dawud, Al Baihaqi dan Ibnu Addi).

    Penulis al Hawi’ berkata dinamakan ‘inah karena akad ini mendatangkan ‘ain, yaitu keuntungan uang dirham atau dinar. Imam Shan’ani : Seseorang menjual barangnya kepada orang lain dengan harga yang sudah diketahui, diangsur sampai batas waktu tertentu. Lalu ia membelinya kembali dari pihak pembeli dengan harga yang lebih murah. Dengan demikian barang tetap kembali kepada penjual.

  17. Bai’ut tawarruq

    Ialah seseorang membeli barang dari penjual dengan harga 10 ribu real, lalu karena ia sangat membutuhkan uang, dijual dengan harga 8 ribu real. Kalangan ulama terjadi perbedaan pendapat,yang paling kuat ialah menganggapnya haram. Bahkan, akad ini menjadi dasar kuat bagi riba sebagaimana ditegaskan oleh Umar bin Abdul Aziz.

  18. Larangan dua syarat dalam satu penjualan

    Amr bin Syu’aib mengatakan telah bercerita kepadanya, ayahnya dari bapak ayahnya hingga sampai pada Abdullah bin Amr. Ia mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidak halal pinjam dan jual, tidak pula dua syarat dalam satu penjualan, tidak pula keuntungan dari barang yang tidak ditanggung dan tidak halal pula menjual barang yang tidak ditanggung dan tidak halal pula menjual barang yang tidak ada padamu”. (H.R. At Turmudzy, An Nasa-i, Ibnu Majab).

    Adapun yang dimaksud pinjam dan jual, yaitu apabila seseorang meminjamkan barang dengan harga 100 dinar, kepada orang lain yang diangsur selama satu tahun, kemudian ia menjual barang itu dengan tambahan harga lima puluh dinar kepada pihak peminjam. Maka orang tersebut menjadikan jual beli ini sebagai sarana untuk menambah keuntungan dalam pinjam meminjam, yang seharusnya peminjam membayarnya seratus dinar sebagai modal. Jadi, sekiranya bukan dengan jual beli niscaya orang itu tidak akan meminjamkannya, begitupula apabila bukan dengan akad pinjam meminjam, niscaya pihak peminjam tidak mau membelinya.

  19. Bai’ bit Taqsith

    Menurut bahasa, taqsith ialah membagi – bagi sesuatu dan memisah – misahkannya menjadi beberapa bagian yang terpisah. Secara istilah berarti : menjual sesuatu dengan pembayaran yang diangsur dengan cicilan tertentu, pada waktu tertentu dan lebih mahal dari pembayaran kontan.

    Dr. Muhammad Aqlah Ibrahim berpendapat,”Ada beberapa pedoman yang dapat dijadikan pegangan dalam memahami bai’ bit taqsith / jual beli kredit secara syar’i, yaitu :

  • Seseorang pedagang menjual barang dagangannya secara mu’ajjal / kredit dengan ketentuan harga lebih daripada secara tunai.
  • Taqsith / kredit ialah bayar hutang secara berangsur – angsur pada waktu yang telah ditentukan.
  • Pembayaran yang diangsur ialah sesuatu yang pembayarannya dipersyaratkan diangsur dengan cicilan tertentu dan waktu tertentu.”

Jual beli kredit belum banyak menyebar dan belum dikenal oleh masyarakat zaman dulu sehingga pembahasannya tidak didapati pada kitab – kitab fiqih dan kitab hadits yang disusun berdasarkan pembahasan fiqh. Namun kini jual beli mulai mewabah dan mendunia, dan ia dianggap mirip dengan dengan beberapa jual beli yang terdapat pada kitab-kitab fiqih, seperti : bai’ atani fi bai’ah = dua penjualan atas satu produk dan shaf qatani fi ahaqaf = dua akad atas satu transaksi; bai’ul inah; bai’ut tawarruq dan larangan dua syarat dalam satu penjualan seperti diuraikan diatas. Namun seperti telah diuraikan diatas, maka Bai’ bit Taqsith berbeda dengan hal-hal tadi. Alasan yang membolehkannya adalah : Semua ayat yang membolehkan bai’ / jual beli dijadikan sebagai dalil sah dan bolehnya akad Bai’bit taqsith. Antara lain :

“Padahal Allah telah menghalalkan Jual Beli dan mengharamkan Riba.” (Q.S. Al Baqarah (2) : 275)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama- suka di antara kamu.” (Q.S. An Nisa’ (4) : 29)

Adapun hadits – hadits dan atsar yang membolehkan kredit dengan tambahan harga selain pada sil’un ribawi (barang dagangan yang biasa ditakar atau ditimbang, bila hendak dijual) banyak. Diantaranya :

  • “Dikisahkan dari Ali RA bahwa ia pernah menukar seekor untu miliknya yang biasa dipanggil Ushaifir dengan dua puluh ekor ba’ir (diangsur) sampai waktu tertentu”. (H.R. Malik dalam Muwaththa’).
  • Rasulullah SAW pernah memerintahkan Abdullah bin Amru bin Ash RA untuk menyiapkan bala tentara. Ia pun membeli satu ekor unta dengan dua ekor unta dengan pembayaran tertunda. (H.H.R. Abu Dawud, Ahmad dan Daraquthni).
  • “Dan Rafi bin Khudaij telah menukar seekor unta kepada pihak kedua, dan ia berkata (kepadaku pihak kedua) yang satu lagi saya bayar besok, insya Allah”. (H.R. Imam Bukhari secara muallaq).

Dari segi Qiyas, bai bittaqsith termasuk jual beli yang disyaratkan Allah, misalnya sama dengan jual beli salaf dan semisalnya.

Nabi saw. bersabda: “Siapa saja yang meminjamkan (sesuatu) hendaklah ia meminjamkannya dengan takaran tertentu, timbangan tertentu, sampai batas waktu tertentu pula”. (H.R. Bukhari Muslim)

Sekedar penegasan, maka syarat Bai’bit taqsith yang diperbolehkan :

  • Harga barang ditentukan dan diketahui oleh pihak penjual dan pembeli.
  • Pembayaran cicilan telah diketahui kedua belah pihak dan rentang waktu yang dibatasi.
  • Harga semula yang sudah disepakati bersama tidak boleh dinaikkan lanataran pelunasannya melebihi waktu yang ditentukan. Hendaknya pembeli bertujuan memanfaatkan secara pribadi atau menjualnya kembali sebagai barang dagangan, buka untuk mengeruk keuntungan dengan cara hillah / tipu daya sehingga tergolong bai’ tawaruq
  • Pedagang tidak boleh mengeksploitasi kebutuhan pembeli dengan cara menaikkan harga terlalu tinggi hingga melebihi harga pasar yang berlaku, agar tidak termasuk kategori bai’ul muththarri / jual beli dengan terpaksa yang dikecam Nabi.
  • Tidak ada lagi tambahan bunga (riba).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s