Tipologi kesalahan berpikir

Ada beberapa tipologi kesalahan berpikir/intellectual cul-de-sac di masyarakat kita yang sering menjebak pikiran kita untuk berubah ke arah lebih baik, yaitu:

  1. Fallacy of dramatic instance/dicto simpliciter. Bermula dari kecenderungan over generalisation, penggunaan satu dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat general/umum. Satu dua kasus yang dijadikan rujukan ini sering diambil dari pengalaman pribadi/individual’s personal experience/testimoni. Sulit untuk berkelit dari fakta yang memang benar adanya, tetapi tidak umum/semua seperti itu.
  2. Fallacy of retrospective determinism. Sebenarnya adalah istilah untuk menjelaskan kebiasan orang yang menganggap masalah sebagai sesuatu yang secara historis memang selalu ada, tidak dapat dihindari dan merupakan akibat dari sejarah yang cukup panjang. Determinisme selalu lebih mempertimbangkan masa lalu daripada masa depan. Orang sering berkata, “Kembali ke belakang..” yang menunjukkan pola berpikir ini.
  3. Fallacy of cause/Post hoc ergo proper hoc. Istilah ini berasal dari bahasa latin, post=sesudah, hoc=demikian, ergo=karena itu, proper=disebabkan, mudahnya berarti “sesudah itu—karena itu—oleh sebab itu”. Kesalahannya adalah menganggap beberapa peristiwa yang terjadi secara berurutan dalam tempo/waktu tertentu dianggap berhubungan. Yang pertama adalah sebab dari yang kedua dan seterusnya.
  4. Fallacy of misplace concretness. Kesalahan berpikir yang muncul karena seseorang salah mengkonkretkan sesuatu yang pada hakikatnya abstrak. Dalam istilah logika disebut juga reification atau menganggap sesuatu sebagai riil padahal hanya ada di dalam pikiran kita. Argumentasi yang sering kita dengar, “Sekeras apapun kita berusaha, jika Tuhan sudah menetapkan rezki kita, maka kita tidak akan mampu mengubah ketetapan-Nya itu.” Kesalahannya adalah ketetapan Tuhan itu abstrak, selama kita belum mengalaminya kita tidak akan pernah tahu seperti apa ketetapan-Nya itu. Yang riil adalah bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan potensi untuk berubah menjadi lebih baik.
  5. Fallacy of authority/argumentum ad verecundiam. Kesalahan ini berdiri di atas argumentasi yang menggunakan suatu otoritas, walaupun otoritas itu sebenarnya tidak relevan atau ambigu. Otoritas adalah sesuatu/seseorang yang kita terima kebenarannya secara mutlak. Relevan adalah kesesuaian antara teks dan konteks. Ambigu adalah makna ganda/sesuatu yang dapat dimaknai secara berbeda-beda. Suatu argumentasi yang didasarkan pada kebenaran yang dianggap mutlak padahal sebenarnya dia tidak sesuai dengan konteks dan/atau dapat dimaknai secara berbeda, maka ia jatuh dalam kesalahan ini. Contohnya adalah kesalahan memahami kata skema piramida dalam bisnis MLM. Istilah piramida sebenarnya adalah istilah yang umum dan ambigu/bermakna ganda. Tetapi skema ini dianggap menunjukkan bahwa orang yang di atas sukses karena hasil kerja keras orang yang di bawah. Orang jatuh ke dalam pemahaman bahwa skema piramida adalah money game/binary/matriks yang illegal.
  6. Fallacy of composition. Timbul karena kesalahan dalam membuat anggapan atau komposisi sesuatu hal. B adalah distributor produk baru. Dengan semangat baja ia mengenalkan produknya kepada semua kenalannya. Ia berkesimpulan andai semua temannya memakai produknya, bisnisnya akan meledak, apalagi ia mengetahui bahwa si A bisa meraih sukses dengan 5 orang langganan tetap saja. Di tahun pertama, B mendapatkan bahwa tidak ada satupun orang yang dihubunginya menggunakan produknya. Ia hanya merekrut 5 orang, cukup gembira dan mendorong kelimanya untuk aktif. Tetapi 5 orang yang diprospeknya ini tidak aktif sekeras apapun usahanya. Lambat laun, B merasa bahwa bisnisnya tidak prospektif lagi. Apa yang salah dengan cara berpikirnya? Ia lupa bahwa tidak semua orang akan menggunakan kecuali yang membutuhkan produknya saja. Alih-alih berkutat pada beberapa orang agar menjadi langganan tetap, B seharusnya terus memperbaiki daftar kenalannya dengan orang baru. Suatu saat pasti akan muncul orang yang menunjukkan minatnya.
  7. Circular reasoning. Adalah pemikiran yang berputar-putar. Menggunakan kesimpulan untuk mendukung pernyataan yang digunakan lagi untuk menunjukkan kesimpulan semula. Contohnya adalah perdebatan mengapa ada korupsi, korupsi ada karena gaji pegawai rendah. Jika ditanya lagi, mengapa gaji pegawai rendah, orang akan menjawab, karena anggarannya habis disalahgunakan. Apa yang menyebabkan penyalahgunaan anggaran? Karena pendapatan tidak mencukupi kebutuhan. Begitu terus, berputar-putar tidak pernah keluar dari pokok masalah. Circular reasoning.
  8. Fallacy of personal attack/ad hominem. Kesalahan ini biasanya timbul ketika seseorang dikritik. Alih-alih mencoba memahami isi kritik, mereka justru menyerang balik secara personal si pengkritik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s